Yang Penting Sehat, Gak Kudu Cepat

Itu bukan karena mutung atau putus harapan, atau omongan orang yang kalah adu speed dengan goweser lain. Bukan sebagai pembelaan diri, tapi memang seseorang mesti tahu diri, bisa mengukur kemampuan sendiri, dan gak lupa umur dan juga mesti ingat anak istri, yang saat ini istri masih satu dan anak duabelas ninggal empat.

Juga karena beberapa kali baca artikel di blog gowes yang menuliskan kabar duka tentang goweser yang meninggal ketika nggenjot di jalan karena serangan jantung. Juga teman bengkel pernah cerita kalau dia pernah nolongin goweser yang tersungkur dijalan dan sesaat kemudian meninggal karena jantungnya overload.

Mau sehat malah akhirat…

Nggowes memang racun yang bikin terlena. Start jam enam pagi dan finish jam tiga sore adalah hal biasa. Sesekali jadi kompetisi saat mendaki. Sudah tersengal tapi masih saja gengsi untuk sekedar berhenti.

Aku memang harus sadar diri. Diantara teman gowesku, akulah yang paling senior dari segi usia, tapi paling bontot dari segi pengalaman kayuh sepeda. Mereka sudah ngayuh sejak masih SMP, diantara mereka dulunya malah sering ngarit (nyari rumput atau jerami buat pakan ternak) pakai sepeda jadul single speed dengan jarak tempuh puluhan kilometer. Jos tenan.

Sedangkan diriku, benar-benar baru kenal sepeda genjot sekitar 4 bulanan ini. Sejak kecil hanya jalan kaki kalau mau sekolah. Pernah waktu SMP kuwadang-kadang dapat pinjaman pit jengki merk pheasant atau phoenix. SMA dan selanjutnya naik motor. Wis… nol pothol soal nggenjot pedal.

Secara kempol dan kemampuan tubuh bertahan jelas aku kalah telak dari teman-temanku. Aku hanya menang gaya dari mereka. Dasar…

Jadi, sejak muda saja tubuhku terbiasa manja. Apalagi sekarang sudah diatas empat puluh tahun. Wajar kalau irama dan kapasitas jantung dan paru-paru gak bisa disamakan dengan yang muda dan terlatih. Tapi tetap saja kebutuhan akan hidup sehat menjadi hak setiap jiwa.

20161027_054702Oke, tadi pagi aku sudah mencoba speed dengan Fastroad keluaran Giant di rute Alaska Sukoharjo. Alaskaret maksudnya, hehe. Aku lihat di Samsung Note 5 (yang gak ikut meledak) ternyata sudah setengah jam lebih menggali kemampuan kempol dan jantungku. Sudah lebih dari cukup untuk sekedar mencari jawaban sehat. Temanku yang pelatih di sebuah laskar bilang, buat usia diatas 40 tahun, lari di tempat dengan paha terangkat maksimal selama 15 menit sudah cukup untuk mengukur kesehatan jantung. Dan kondisi itu bisa disetarakan dengan gowes dengan posisi duduk tertentu sehingga mendekati posisi lari di tempat. Info ini selaras dengan yang dibilang seorang teman yang jadi pelatih di marinir yang pernah ikut jadi tim kemanusiaan di Aceh waktu tsunami tempo hari.

Jadi?

Boleh saja jatuh cinta (pada sepeda) di atas 40 tahun dan berlatih gila-gilaan bak atlet nasional. Tapi ingat,

  • Jujurlah pada diri sendiri.
  • Nggowes biar sehat, gak kudu cepat. Mau ikut lomba po piye?
  • Atur jadwal buat istirahat dan recovery. Tubuh punya hak buat istirahat. Jangan dihajar terus.
  • Bolehlah pakai alat pemantau detak jantung. Tapi yang lebih tahu kondisi kita ya diri kita sendiri. Balik ke poin satu.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

One thought on “Yang Penting Sehat, Gak Kudu Cepat

  1. Ping-balik: Yang Bertahan | pesona fragrance

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s