Onthel, Antara Rencana Belanja dan Kebutuhan Upgrade

Hindari upgrade komponen sepeda. Kalimat itu aku tanam dalam hati dan ku tulis di blog ini untuk jadi pengingat.

Waktu ambil Polygon Rayz 24” dual suspension buat anakku (lagi), aku sempat melihat-lihat drivetrain di balik kaca etalase Rodalink. Sungguh…. harga part onthel sering gak masuk akal.

Aku tanya ke mekanik, bagaimana kebiasaan goweser yang ke Rodalink buat upgrade sepeda. Dari sini aku mendapat tambahan pengetahuan, bahwa sebagian goweser pemula akan keracunan upgrade ketika mereka memulai beli sepeda dari level harga yang rendah. Biasanya mereka beralasan, beli sepeda pertama sekedar untuk olahraga, lalu seiring dengan kebiasaan gowes dan bertemu dengan sesama goweser di jalan, akan mulai keracunan. Semua dimulai dari…. thinggg….

Racun tahap awal akan menyerang unit drivetrain ini. Mulai dari crankset yang awalnya bergigi 2 mau nambah ke 3. Lalu sprocket yang awalnya bergigi 6 jadi ingin menambah jadi 8 atau 9, atau malah 10 sekalian. Lalu racun merembet ke unit brakeset. Yang tadinya tipe v-brake maunya berubah jadi discbrake, yang tadinya mekanis minta naik jadi hidrolis. Padahal harga per unit akan menambah keras tangis si dompet.

Racun level menengah biasanya akan menyerang goweser untuk urusan aksesories. Mulai dari bel, tempat minum dan dudukannya, tas, toolset, sampai helm dan pakaian. Dan lagi-lagi, harganya tetap saja gak masuk akal.

Racun antiklimaks akan menyerang unit frame dan fork. Dan memang bagian inilah yang paling kelihatan. Bagi yang kurang pengalaman tentu akan memilih sepeda berdasarkan faktor emosional. Bentuk frame yang cakep atau warna yang sehati, tanpa peduli dengan jenis yang sesuai kebutuhan.

1

sesuai kebutuhan

Tapi aku punya pengalaman bahwa, menilik cara pandang orang negeri ini, yang mereka perhatikan adalah merk frame atau lebih tepatnya tulisan apa yang bisa mereka baca dari frame sepeda dan tidak perlu tahu part apa dan di level berapa yang menempel pada frame itu. Ada seorang teman yang memanfaatkan paradigma ini dengan membeli frame mahal, lalu ditempeli part yang tidak mahal-mahal amat, tapi juga bukan yang paling murah. Gengsi dapat, harga bisa hemat. Boleh setuju boleh menolak setuju. Aku sendiri no comment aja…

Sebenarnya part onthel itu fungsinya sama saja. Merk apapun dan harga berapapun fungsinya sama. Tapi kalau bicara kualitas, yo ono rego ono rupo. Perbedaan ini biasanya pada bobotnya, jenis dan kemampuan serta daya tahan. Kalau model tentu gak nyambung ke fungsi tapi lebih kepada gengsi. Demikian pula label di “dhalangan pit” yang bisa dibaca orang lain, lebih kepada mental… iki loh onthelku…! Tapi yang lebih penting sebenarnya adalah power potensial yang tersimpan pada paha dan betis kita sendiri. Komponen sepeda hanyalah part pendukung dalam kita meraih target-target nggowes kita.

Jadi sekarang maunya apa?

Kalau mau beli sepeda sebagai investasi kesehatan kita, yo…

  • Innamal a’maalu bi an-niyyati…. Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya dan sesungguhnya untuk setiap orang apa yang dia niatkan. Beli sesuai kebutuhan dan tujuan nggowes.
  • Jangan beli sepeda yang murah sangat, karena akan keracunan upgrade di kemudian hari. Mending sekalian ambil yang kualitas drivetrain-nya bagus. Kalau mau sekalian, beli frame yang berbeda dari yang fullbike. Misalnya kita beli hardtail secara fullbike, kalau mau ganti model full suspension, cukup beli frame saja.
  • Jangan menelan mentah-mentah saran teman yang menyarankan satu merk tertentu lalu kita beli secara online. Fakta bahwa ukuran badan, panjang kaki, dan kekuatan fisik setiap orang tidaklah sama. Datang saja ke toko onthel, coba sepeda yang kita inginkan. Dan seperti pakaian, tiap pabrikan sepeda juga punya cara sendiri dalam membuat ukuran produknya.
  • Kalau mau beli frame saja, cobalah untuk melihat dalam versi fullbikenya. Jangan memaksakan diri dengan cara mencocokkan badan kepada sepeda, tetapi sepedanya yang harus cocok dengan badan, dan ukuran frame sangat penting di sini. Pabrikan ada yang membuat ukuran frame dengan XS, S, M L sampai XL, tapi ada juga yang menggunakan ukuran 16, 17, 18, atau 19 dan lainnya lagi. Pengalamanku sendiri, ukuran S sesuai untuk tinggi badan 160-170 cm, sedang ukuran M cocok untuk tinggi badan 170-180 cm. Dan seterusnya. Aku pakai Polygon Heist yang ukuran framenya 43 dan Giant Talon yang ukurannya S.
  • Jika ada teman yang sudah ber-MTB, bolehlah kita pinjam. Kalau cocok dan nyaman, bolehlah kita rencanakan untuk mengikuti jejaknya.
  • Dan jangan menimbang belanja dari faktor emosi. Membeli sepeda terlalu murah tidak akan menghindarkan kita dari racun upgrade sampai parahnya malah berganti-ganti sepeda. Sampai suatu hari kita baru berhitung bahwa uang untuk sepeda sudah habis terlalu banyak. Sebaliknya kalau mau beli yang kelasnya mahal, bakalan gak kuat didiemin istri… Emang berapa mahalnya? Sebut saja 30 juta ke atas…sambil ngelirik dompetku sendiri, jangan ngelirik Paman Gober.
  • Wis..wis…mandheg sik. Nyruput teh anget dulu.

Oke. Pengalamanku ini tentu tidak berlaku bagi Paman Gober atau mereka yang nyetak uang sendiri dan lebih suka mengisi hari-harinya dengan masuk ke toko sepeda dan meninggalkan segepok rupiah di depan kasir.

Dan bukannya sok tahu, tetapi celotehanku ini adalah rekaman yang secara nyata aku sampaikan kepada dua orang temanku yang minta saran karena mau beli onthel juga.

3 thoughts on “Onthel, Antara Rencana Belanja dan Kebutuhan Upgrade

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s