Antara Celana, Sadel dan Barang Pusaka

Pagi ini aku nggowes lebih jauh dari hari-hari sebelumnya. 1,5 jam lebih dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi bukan soal jarak tempuh dan waktu tempuh yang aku mau catat disini. Tapi sesuatu yang lain.

Sesampainya di rumah, biasalah pupuku lempoh tapi kenapa juga ini pusaka kok koyo abuh… rasanya jadi gedhe… dan kayak ada semut-semutnya gitu…

Wah, jangan-jangan cara duduk yang gak bener atau celana yang aku pakai atau memang sadel yang kepasang di sepeda kurang cocok nih.

  • Cara duduk.

Sepertinya secara natural badanku sudah mengatur sendiri posisi duduk dengan nyaman. Karena sejauh ini gak ada keluhan kecuali pupu lempoh. Poin ini lewat wis.

  • Celana.
celana

ilustrasi celana cingkrang

Memang aku gak pakai celana yang disarankan oleh para goweser maupun oleh bakul kathok. Celanaku ya biasa ajah. Model sirwal yang dijual di toko muslim. Celana cingkrang lagi longgar. Aku pilih manut syariat ae. Celana isbal bisa jadi sebab masuk neraka loh. Pilih longgar juga biar gak mbentuk pupu, risih… meskipun asal dalil pakaian longgar adalah untuk kaum perempuan, tapi bukan lantas bagi laki-laki boleh ngumbar aurat dong… Celana ketat apalagi yang sampai mbentuk paha dan ada buah manggis gandulan gitu… sori Bro kebablasen. Lagian sejauh ini gak ada masalah kok. Gak nyanthol. Nyerap keringat juga loh… tinggal kualitas sirwal ya…

  • Sadel.

Sepertinya ini yang jadi kambing hitam.

Sejatinya sebuah sadel harus mampu menopang bokong secara menyeluruh dan gak menghambat gerakan kaki saat nggenjot pedal, apalagi sampai kecanthol. Sadel yang baik jika digunakan dalam waktu yang lama, badan gak kelelahan dan tentunya gak nyakitin pusaka dan bokong bagian dalam.

Terus gimana milih sadel yang tepat?

Sadel (2)

entity, sadel bawaan polygon heist 2

Observasi dulu dengan sadel yang ada sekarang. Kekurangannya dimana. Yang aku pakai memang sadel bawaan Polygon Heist 2 yang kubeli full-bike. Bikin bokong panaskah? Gak. Bikin sit-bone sakit? Gak juga. Keluhan ya cuman pusaka rasa kesemutan.

Oke, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan.

  • Coba-coba. Punya teman di komunitas, kalau ada. Semua sepeda teman dicoba kabeh. Kalau sudah nemu baru diembat, eh… dipinjam buat dibawa ke toko dan… Mbak, beli sadel yang kayak gini, sambil nunjukin sadel teman. Kalau tetap gak nemu ya pindah komunitas. Kalau gak punya komunitas? Koyo aku iki….
  • Beli langsung aja terus dibawa pulang terus dipasang ke sepeda terus dicoba nggowes sampai 2 jam atau lebih. Kalau belum cocok ya beli lagi. Begitu dan seterusnya kalau perlu sampai stok di toko habis kebeli semua. Pasti nemu meski the last change and the last one…

Awas kalau beli barang apapun, jangan beli yang termurah atau termahal. Yang tengah-tengah aja, lebih enak….

Terakhir. Jangan-jangan bukan salah sepeda maupun sadel apalagi celana. Cuman kaget pada kesan pertama ajah.

Gowes lagi aah…

9 thoughts on “Antara Celana, Sadel dan Barang Pusaka

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s