Dari Asus Zenfone 6 ke Vivo 5Xpro lalu Sony Z3+ Dual

Kesan perpindahan.

  • Asus Zenfone 6 ke Vivo 5Xpro: Excited
  • Vivo 5Xpro ke Sony Z3+ Dual: Biasa saja.

Kesan ini aku ukur secara subyektif sesuai feeling saja.

Secara harga Asus Zenfone 6 di awal kali muncul ada di kisaran angka 3 jutaan (tapi sekarang sudah turun) lalu Vivo 5Xpro di angka 5 jutaan maka aku dapati bahwa nombok hampir 2 kali terasa masuk akal. Tapi ketika dari Vivo 5XPro lalu naik mendekati 2 kali lagi jadi Sony Z3+ Dual yang ada di kisaran 9 jutaan kok biasa aja. Gak masuk akal, malah….

Coba diurut secara user awam. Artinya lihat dari jauh terus pengin dekat. Udah dekat jadi pengin nyentuh. Udah nyentuh terus pengin ngerasain. Udah ngerasain…..

terus komentar. Itulah Indonesia…

Kenal dari mana?

  • Asus Zenfone 6. Dari banyaknya orang yang pake produk Zenfone ini.
  • Vivo 5XPro. Pas jalan-jalan ke Matahari Singosaren. Setahun sejak pake Asus Zenfone 6.
  • Sony Z3+ Dual. Karena gagal nawar Sony Z3 Dual seken pas dealing di Manahan beberapa hari setelah pake Vivo 5XPro. Kenal dari OLX.

Desain.

  • Kesan pertama Asus Zenfone 6 mantaps.
  • Kesan pertama lihat Vivo 5XPro subhanallah…. cantik bener. SPG jelas kalah.
  • Kenal Sony Z3+ Dual dari situs. Desain nampak maskulin di monitor 22 inch dengan resolusi image di atas 4MP.

Megang pertama kali.

  • Asus Zenfone 6. Terasa megang telenan buat ngiris sayur. Lebar banget layar 6 inch. Tapi punggungnya yang melengkung enak di telapak tangan. Kelemahannya muncul ketika ditaruh di atas meja terus buat WA atau BBM atau SMS… goyang ombak.
  • Vivo 5XPro. Seksi. Bodinya yang langsing dan mulus dan kinclong depan belakang, aku langsung jatuh hati. Depan belakang Gorilla Corning Glass 3 semua. Sisi-sisi yang melengkung halus jadi enak banget megangnya. Tapi agak susah ngambil dari meja. Tipis, Bro…
  • Sony Z3+ Dual. Simpel. Sisi-sisinya dilapisi metal. Mungkin untuk pelindung, tapi efeknya jadi agak kurang nyaman di tangan.

Nyala pertama kali.

  • Asus Zenfone 6. ZenUI adalah sesuatu. Sangat mudah bagiku untuk beradaptasi dari yang sebelumnya pakai Lumia 720. Apalagi Asus File Manager, mantap. Secara default sudah mendukung penambahan folder baru. Pengaturan album foto juga keren. Pengaturan kontak keren banget.
  • Vivo 5Xpro punya Funtouch. Seiring dengan kecantikan desain luar, sistem operasinya juga tampil cantik. Cantik luar dalam. Gak salah kalau dia berbisik, X5Pro Extreme Hi-Fi & Slim Body. Touched by Beauty. Sayang pengaturan kontak gak user friendly gitu. Terlalu datar gak informatif. File manager bawaan juga kurang lengkap. Akhirnya aku pasang yang punya Asus.
  • Sony Z3+ Dual punya Xperia UI. Kesannya kaku, perwujudan dari maskulinitas mungkin. Belum lagi 3 tombol utama yang masuk ke bidang layar. Layar yang 5.2 inch jadi kurang lebar untuk memasang ikon aplikasi dan widget yang bagiku sangat penting untuk dipasang di layar utama. Akhirnya aku pasang Line Launcher (dulu Dodol Launcher). Sip wis. Oiya, file manager aku pasang yang dari Asus. Bagiku itu yang paling cocok di hati. Yang bawaan banyak iklan.

Isu panas.

Ini dimaknai secara denotatif.

Di awal waktu, Asus Zenfone 6 sering diejek, hape yang bisa buat rebus telur. Aku maklum saja. Lha wong Asus Zenfone 6 kan pakai chipset Intel. Dimana-mana intel kan suka bikin panas.

Vivo 5XPro sepertinya gak kena isu panas. Padahal panas juga, tapi mungkin derajat kepanasannya sekadar dengan Asus Zenfone 6. Intel gak main di sini soalnya….

Sony Z3+ Dual jelas diterpa isu yang bukan sekedar pepesan kosong. Overheat adalah fakta. Awalnya sekedar baca di internet, tapi nekat beli. Penasaran ajah. Begitu pegang, benar tuh…. super duper over… benar tuh kalau pihak Sony bilang, Xperia™ Z3+ Dual Lebih tipis, ringan, cepat (panas, red)

Solusinya ya update firmware. Selesai…..?

Di beberapa milis atau blog pribadi para pengguna Sony Z3+ Dual banyak menyarankan update firmware. Dan kata mereka berbeda satu sama lain. Ada yang bilang masalah selesai, ada yang bilang update gak menyelesaikan masalah. Dan yang terjadi padaku….. masalah masih tetap muncul.

Tiap kali aku mau njepret obyek dengan kamera, sekitar 2 menit akan muncul pop up bahwa perangkat mengalami overheat, dan akan kamera akan mati sendiri. Gawat, Mas Bro….

Meskipun aku bukan pengguna aktif kamera, ini tetap menjadi masalah serius bagiku. Lebih serius lagi bagi Sony Z3+ Dual, dan sangat serius bagi pihak pabrikan (harusnya).

Berdasar pengalaman ini, aku sangat tidak menyarankan Mas Bro Mbak Sis sekalian menggunakan produk Sony Z3+ Dual ini. Apalagi menyisihkan dana yang cukup besar hanya untuk kecewa. Daripada Sony Z3+ Dual masih sangat mending beli Vivo 5XPro, kalau pilihan hanya dari 3 item sesuai judul. Masih ada kembalian hampir separo. Atau kalau cari yang kisaran harga setara dengan Sony Z3+ Dual ya…. harus produk dari pabrikan lain. Bahkan, kalau ada yang jual produk ini karena kecewa berat, meskipun banting harga padahal pakai baru sepekan….. jangan dibeli. Meskipun itu aku….

Dah…

Tulisan ini murni dari yang ku alami. Tidak ada maksud apapun. Lagian ini hanya first impression. Gak bicara daya tahan, respon pasar global, harga jual kembali, kurs rupiah, atau apapun. Juga, pengalaman penggunaan juga belum jadi acuan akurat untuk menilai semua sisi.

Kalau ada hal lain lagi akan aku tulis insya Allah di tulisan terpisah.

One thought on “Dari Asus Zenfone 6 ke Vivo 5Xpro lalu Sony Z3+ Dual

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s