Refreshing

Kadang manusia butuh pit-pitan. Tapi aku sering.

Favoritku ya area kebun teh Kemuning.

Ini kisah lama, tapi kami masih suka mengulang-ulang perjalanan, meski dengan armada yang berbeda.

Yang versi ini kami berenam, aku dan bolo-bolo. Kabeh model ndeso wis. Coba saja, semua sandal jepit ada yang swallow version. Ngepit karo pamer gigi sampai kering. Helm sudah SNI meski gak mudeng opo. Versi lain bisa berbeda tergantung negara setempat. Hehe…

Mengandalkan armada full Yamaha, mulai MX lansiran 2007, lalu MX 2012 hingga Byson 2012.

makan dulu

Acara dibuka dengan makan siang khas Resto Kemuning. Menu favorit adalah Gurame asam pedas dan Nila asam manis. Minumnya teh ijo. Yang lain terserah, tapi biasanya ngikut, lha wong ra mbayari, dan juga karena model paket menu kiloan lebih murah tapi porsi lebih mantap.

Selesai makan dan shalat di mushola yang lumayan nyaman di area resto, kami lanjut dengan nyemplak motor. Berkendara dengan kecepatan santai tapi tidak terlena. Tetap tertib dan menghormati biker lain yang akan mendahului. Jalan berkelok dan menanjak atau turunan curam adalah untuk dinikmati, untuk disyukuri.

3Akhirnya sampai di bagian tertinggi dari hamparan kebun teh. Kami sering ke sini, tapi tak pernah bosan untuk kembali lagi. Berfoto sebentar lalu duduk santai ambil nafas dan menikmati pemandangan indah yang terhampar di bawah. Bersyukur atas ni’mat yang diberikan Allah atas keindahan ini. Mengatur nafas dan mengukur seberapa besar kebaikan yang sudah kami kumpulkan dan seberapa banyak keburukan yang sudah kami lakukan. Memohon ampun atas semua keburukan. Mengumpulkan tekad untuk menjadi lebih baik lagi. Suasana sejuk dan tenang memang cocok buat bertafakkur.

JpegSetelah kelegaan kami dapat, kami kembali turun. Tapi bukan pulang, malah ambil jalan ke kiri mengarah ke Tawangmangu. Tetap berkendara dengan kecepatan rerata 40 hingga 50 km/j.

5Hingga akhirnya kami sampai di kawasan Sekipan, hanya beberapa kilometer naiknya dari pasar wisata Tawangmangu. Ini area yang populer buat kongkow anak muda. Kami yang (pernah) muda ini pun sesekali nongkrong sambil mbakar jagung ditemani secangkir cokelat panas. Kalau perlu mbakar sendiri agar citarasa jagung pas dengan selera. Mantaps…

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s