Pembaca Al-Qur’an itu Bersaudara

Lanjutan dari sini

Kata petugas terminal yang kami temui, yang ke arah timur semua start di terminal satunya, Cicaheum. Terminal Leuwipanjang hanya melayani bus dengan rute Bandung ke barat. Laa haula wa laa quwwata illaa billaahi…

Lagian, tambah pak petugas. Jam segini (sekitar jam 11-an malam) sudah gak ada bus berangkat ke Cirebon. Paling cepat besok pagi sebelum subuh. Sekitar jam 4 pagi.

Lha terus piye iki…

Aduh maaf ya Mas. Gara-gara saya jadi begini.

Ah, gak papa Mbak. Ini jadi pengalaman berharga buat saya kok. Lagian saya kan dapat teman baru. Bener gak papa kok.

Ya udah, Mas. Kita ke rumah saya aja dulu. Besok pagi baru diterusin perjalanannya.

Ya sudah Mbak. Mau gimana lagi. Pasrah aku. Tapi gimana dong Mbak. Apa entar gak gimana-gimana orang rumah. Mosok bawa orang asing, malam-malam lagi… tur laki-laki.

Mas tenang aja… jawab Dida kalem.

Tapi omong-omong, terminal Cicaheum jauh gak dari rumah Mbak.

Gak kok Mas.

Tapi, jauh atau dekat, aku sudah siap. Duh dek…

Yuk…

Lalu, kami pun berjalan keluar dari terminal. Nyebrang jalan, masuk gang dan beberapa blok, nyampe. Ternyata rumahnya deket banget sama terminal. Sekira seperempat jam jalan kaki nyampe.

Dari luar, di keremangan cahaya lampu jalan, rumah berpagar kawat itu terlihat sederhana dan ramah, sejiwa dengan salah satu penghuninya, Dida. Meski baru kenal, aku merasa sudah akrab dengannya. Coba saja, tengah malam seorang perempuan bawa pulang laki-laki asing yang baru kenal… fenomena apa gerangan…

Kami jalan perlahan masuk pekarangan. Dida ketuk pintu dan mengucap salam.

Assalamu’alaikum….

Tok…tok…tok….

Wa’alaikumsalam.

Terdengar suara bapak-bapak dari dalam.

Abah, ini Dida pulang.

Sebentar kemudian pintu terbuka.

Dida salaman dan cium tangan Bapaknya.

Ini Dida bawa teman baru Bah…

Assalamu’alaikum Bapak.

Aku jabat tangan Bapak itu.

Saya Agus, teman baru Mbak Dida. Maaf bikin kaget Bapak.

Wa’alaikumsalam. Ooo…

Dida masuk dengan bapaknya.

Sebentar ya Mas. Tolong Mas tunggu di luar dulu. Rumah masih berantakan.

Iya Mbak.

Aku lantas duduk di kursi panjang disamping pintu masuk.

Sayup-sayup aku dengar pembicaraan mereka berdua. Ngrasani aku…

Sebentar kemudian, lampu ruang tamu menyala terang. Aku dipersilakan masuk.

Mari Nak, masuk.

Iya Bapak. Maaf merepotkan.

Tidak apa-apa. Kata Dida, Nak Agus jadi imam waktu shalat di terminal Jakarta. Bacaannya bagus, katanya. Kata si Bapak sambil mengajakku duduk.

Ah, bisa saja Mbak Dida. Biasa saja kok Pak. Sejak kecil memang sudah begitu. Diajarin Bapak di rumah.

Karena hal itu pula, Dida berani ngajak Nak Agus mampir ke rumah.

Subhanallah…

Ini memang bukan yang pertama aku mengalaminya. Tapi ini yang paling menyentuh. Beberapa bulan sebelum ini, di daerah Citeureup, aku juga pernah menginap di rumah seorang imam masjid kampung hanya gara-gara aku mampir shalat dan istirahat di sana dan sambil melepas penat aku iseng baca Qur’an dari mushaf yang ada di rak masjid itu.

Di daerah Cikarang, aku juga jadi kenal baik dengan sebuah keluarga karena obrolan sesudah shalat di sebuah masjid kampung.

Saat aku tinggal beberapa bulan di daerah Jurumudi, daerah sekitar Daan Mogot. Aku sering makan gratis di warung gado-gado gara-gara Bapak pemilik warung pernah memergoki aku baca Qur’an di kontrakan.

Lalu, ini kata seorang teman. Di daerah Kampung Lengkong Tasikmalaya, salah satu syarat menjadi pejabat desa harus bisa Lagam. Yaitu, bisa melagukan bacaan al-Qur’an.

Pengalaman pribadiku, di tanah Sunda, kita akan mudah mendapat saudara karena bacaan Al-Qur’an. Subhanallah…

Saat itu juga, pandanganku kepada Dida berubah. Aku jadi jatuh hati kepadanya, dalam arti yang lebih luas. Bukan urusan jatuh cinta seperti monyet mendapat sebutir kacang. Demikian pula pandanganku terhadap Bapak ini. Tulus….

Jadi, malam ini Nak Agus menginap saja dulu di sini. Besok pagi-pagi sesudah subuh, baru melanjutkan perjalanan lagi.

Iya Bapak. Terimakasih sudah memberi saya tumpangan buat saya. Dan lebih dari itu semua, terimakasih sudah memberi saya kepercayaan seperti ini. Saya tidak akan bisa membalas semua kebaikan ini. Saya merasakan sekali ketulusan Mbak Dida dan juga Bapak. Mudah-mudahan Allah yang akan membalas dengan yang jauh lebih banyak dan jauh lebih baik. Amien.

Ini Mas tehnya.

Dida datang membawakan teh untuk Bapak dan aku.

Kalian saja yang minum.

Bapak mau melanjutkan tidur ya Nak.

Oh… iya Pak, silakan. Terimakasih.

Akhirnya malam itu aku habiskan berdua dengan Dida. Ngobrol sampai pagi…

Sedemikian percayanya keluarga ini kepadaku.

Ya Allah, meski mungkin mereka lupa kepadaku, aku tak akan lupa kepada mereka.

Mas, habis sholat subuh, Dida antar Mas ke terminal, biar bisa segera ke Cicaheum. Habis itu tinggal nyari bus ke arah Cirebon.

Iya Mbak. Terimakasih buat semuanya.

Pagi itu, aku sholat subuh di masjid dekat rumah bersama Bapak. Bacaan imam di masjid itu enak bener.

Pulang dari masjid, sudah ada teh anget dan makanan ringan dan senyum Dida dan juga Ibu dan beberapa adiknya. Serasa di rumah sendiri. Subhanallah walhamdulillah…

Tak lama kemudian aku pamitan. Rasa sesak menyeruak dalam dada. Berat rasanya berpisah. Semalam baru kenal, rasanya sudah tak ingin berpisah. Aku salami dan peluk sang Bapak. Hangat.

Aku masih ingat pesan Ibu,

Nak, semua orang yang suka baca Qur’an itu bersaudara. Kalau Nak longgar, mainlah ke sini lagi kapan-kapan. Jangan sungkan.

Pagi itu juga, aku tinggalkan terminal Leuwipanjang ke arah Cicaheum untuk bertolak ke Cirebon. Separuh hatiku tertinggal di Bandung.

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s