Beli Motor Dipaksa Kredit? Laporkan!

Mau Beli Sepeda Motor Tunai, Konsumen Dipaksa Kredit

Fenomena dealer sepeda motor yang lebih mengutamakan penjualan kredit sudah menjadi rahasia umum sejak lama. Meski sudah banyak pelaporan dan keluhan, sekaligus tindakan dari berbagai merek, namun tetap saja praktiknya tak bisa dihindari.

Pemicunya jelas. Insentif dari leasing ke dealer atau sales yang cukup besar menjadi trigger untuk oknum tenaga penjual mengeruk keuntungan. Konsumen pun dirugikan, saat ingin membeli sepeda motor secara cash, justru tidak semulus saat bilang akan beli secara kredit.

Pengalaman terbaru dialami Frangky. Kepada KompasOtomotif, dirinya menceritakan pengalaman saat ingin membeli Honda CBR150R rakitan lokal, beberapa waktu lalu di salah satu dealer Honda kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Meski tenaga penjual yang melayaninya sangat ramah, namun ada yang mengganjal. ”Beli cash boleh, saat sudah memberikan tanda jadi Rp 1 juta. Tapi setelahnya sales itu mengatakan jika ada pembeli lain yang meminang secara kredit, unit akan diutamakan untuk pembeli kredit,” ungkap Franky.

Bahkan sang tenaga penjual, menurut Franky, terang-terangan mengatakan bahwa untung untuk dealer dan sales akan lebih besar saat konsumen membeli secara kredit. Artinya, tenaga penjual memancing konsumen untuk membeli secara kredit.

Cara tersebut termasuk cukup halus. Bandingkan dengan beberapa kasus yang lebih ”kasar”, saat pembeli dengan cara cash divonis inden beberapa bulan, sedangkan pembeli kredit langsung ready stock. Fenomena ini masih kerap terjadi.

”Saya punya pengalaman beberapa bulan setelah Yamaha me-launching R25. Saat itu saya ingin beli tunai di salah satu dealer Yamaha kawasan Jakarta Selatan. Syaratnya malah banyak, termasuk menunggu hingga beberapa bulan,” terang Jodhy Arga, calon konsumen.

Memang Yamaha R25 saat itu inden panjang. Namun, lanjut Jodhy, jangka waktu menunggu untuk pembeli yang kredit jauh lebih singkat. ”Kalau kredit bisa diusahakan 1 bulan. Kalau tunai bisa sampai 3 bulan,” aku Jodhy.

Kondisi ini biasa terjadi pada tipe sepeda motor dimana supply sangat sedikit sedangkan permintaan cukup tinggi. Biasanya terjadi saat model baru diluncurkan. Dalam kondisi, tentu dengan menjual secara kredit dengan jumlah besar, maka dealer atau sales akan memperoleh keuntungan lebih dari cashback, insentif, atau biasa juga disebut refund dari leasing.

Lalu, apa langkah yang dilakukan ATPM? Seberapa besar keuntungan sales dari praktik ini?

Ini Pengakuan Sales yang “Paksa” Konsumen Beli Kredit

Fenomena ”sales” atau tenaga penjual yang ”memaksa” konsumen untuk membeli secara kredit masih kerap ditemui. Alasannya jelas, godaan untung lebih besar saat konsumen membeli kredit, yakni insentif tambahan dari leasing.

KompasOtomotif mendapatkan pengakuan dari salah seorang tenaga penjual dari dealer resmi salah satu merek sepeda motor di Depok, Jawa Barat. Menurut —sebut saja Abi— besaran insentif dari leasing memang cukup menggoda. Bentuknya macam-macam, tapi paling banyak pemotongan uang muka.

”Besarannya macam-macam, tapi semakin besar DP (uang muka), biasanya semakin besar refund. Misalnya, DP Rp 2 juta, yang disetor ke leasing bisa separuhnya. Sisanya buat sales atau dealer. Kalau DP Rp 500 ribu, insentifnya juga kecil. Itu kesepakatan saja sama leasing,” beber Abi.

Menariknya, Abi juga mengindikasikan ada ”permainan” antara tenaga penjual dengan petugas dari leasing. Keuntungan dari insentif bisa dibagi-bagi sesuai kesepakatan bersama.

”Ada lagi yang bikin sales semangat, ada leasing yang bikin lomba penjualan. Kalau masuk kriteria dapat tambahan uang atau hadiah lain,” ungkap Abi.

Keuntungan itu belum termasuk beberapa kasus bagi-bagi keuntungan dari asuransi. Soal ini, ada rumus tersendiri untuk menentukan besaran insentif.

Intinya, jumlah subsidi, atau insentif, atau refund bisa berbeda-beda bergantung daerah dan kesepakatan antara tenaga penjual dengan dealer dan leasing. Perbedaan besaran insentif juga bergantung tipe sepeda motor yang akan dibeli.

Perlu dicatat, fenomena ini tak hanya marak di dunia jual-beli sepeda motor. Sales mobil juga banyak yang memanfaatkan refund dari leasing sebagai senjata untuk menggoda konsumen agar mau beli secara mengangsur.

Konsumen ”Dipaksa” Beli Secara Kredit, Laporkan!

Praktik ”pemaksaan” oknum tenaga penjual untuk mengarahkan konsumen membeli sepeda motor secara kredit agar mendapat untung lebih diakui pemegang merek akan berakibat buruk. Meksi tak bisa dibenarkan, kontrolnya dirasa sulit, karena berhubungan dengan dealer.

Thomas Wijaya, GM Divisi Penjualan PT Astra Honda Motor, mengatakan kepada KompasOtomotif, (14/4/2015), bahwa sejauh ini belum ada mekanisme kontrol, karena ATPM tidak berhubungan langsung dengan konsumen.

”Tetapi kami selalu menekankan kepada main dealer agar berfokus kepada pelayanan. Apa pun maunya konsumen, beli cash atau kredit, harus dilayani dengan baik. Kalau konsumen tidak happy tentu impact-nya juga ke kami (penjualan),” ujar Thomas.

Ditambahkan, jika memang didapati dealer yang oknum tenaga penjualnya melakukan praktik ini, AHM akan melayangkan teguran ke main dealer, untuk diteruskan ke dealer yang bermasalah tersebut.

”Mestinya kebijakan dari dealer tidak seperti itu. Kalau memang ada oknum tenaga penjual yang seperti itu, dealer dan main dealer harus memonitor,” tegas Thomas.

Laporkan

Disarankan, jika ada konsumen yang merasa ”dipaksa” oknum tenaga penjual untuk beli secara kredit untuk melaporkannya ke costumer care Honda secara nasional atau call center main dealer.

”Peringatan tegas akan kami layangkan, dan selama ini memang sudah ada dealer yang diberi sanksi. Keputusannya ada di tangan main dealer untuk menindaklanjutinya,” urai Thomas.

Skema pelaporan ke call center juga pernah dilakukan Yamaha Indonesia beberapa waktu lalu. Bahkan fenomena pembelian yang dipaksa harus kredit sempat membuat para petinggi Yamaha gerah dan menindak tegas dealer setelah ada pelaporan.

Berita ini jadi 3 judul di kompas otomotif.

Masalahnya adalah:

Calon konsumen kadang takut.

Kalau gak takut, gak tahu gimana langkahnya.

Kalau tahu langkahnya, gak tahu ke mana.

Nomer yang bisa dihubungi?

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s