Gak Sreg: Pengalaman Servis Resmi Grand Livina di Nissan Solobaru

Ini cerita pengalaman sendiri saja.

Pasca servis grand livina km 20ribu. Berarti servis kedua kan. Servis pertama gak ada ceritanya, karena semua berjalan normal. Servis kedua ini baru ada ceritanya.

Tanggal 17 Maret, aku datang ke Nissan Solobaru, ditemani temanku. Dapat urutan servis ke 227…

Ya sudah, karena gak pakai menu kencan, ya sedapatnya nomer deh.

Dari jam 9an aku datang, jam 15an baru mobil masuk ruang servis. Sekira jam setengah lima sore baru kelar.

Habis servis mobil dicuci dan dibawa jalan sebentar oleh mekanik. Dites sebelum diserahkan ke pemilik.

Kemudian urusan kasir.

Karena gak lewat kredit dan asuransi, aku gak dapet voucher atau fasilitas apapun. Semuanya standar dan nilai nota adalah Rp 1.206.150….. katanya kalau kredit dan asuransi bakalan dapet diskon 500an sampai 600ribu.

Subhanallah…. ini salah satu bentuk keanehan sistem ekonomi Indonesia. Kapitalisme…. jare sopo cocok karo UUD 45. Jare sopo sesuai karo Pancasila…. opo maneh karo Islam. Jauh panggang dari api, Bro…

Wis…

Mobil sudah bisa aku bawa pulang. Oke, disopiri temanku.

Lah….

Dalam perjalanan pulang, kok keroso gak nyaman. Roda seperti gak balance. Pedal kopling juga lebih berat. Memang sebelumnya aku sampaikan komplain kalau kopling terlalu dalam, aku minta supaya diatur agak pendek jaraknya, tapi bukan begini harapanku.

Karena aku ada acara ke luar kota, ya sudah bablas saja pulang.

Kemudian acara ke luar kota beberapa hari.

Nah, dalam perjalanannya, kemudian muncul suara berdencit-dencit dari kolong mesin. Juga suara mirip gesekan di bagian belakang sekitar bagasi. Bagasi aku kosongkan, sampai kelihatan ban serep. Mobil jalan, eh masih ada suara itu. Dari mana ya? Wong sebelum ini gak ada gejala begitu.

Lah, yang di kolong mesin mirip banget dengan suara belt yang kering dan nggesek pulley. Tapi kalau dari dalam kabin gak kedengaran, kalah sama deru angin AC. Tapi kalau dari luar atau pas buka jendela, terus mundur masuk garasi, kedengaran banget.

Nah, tanggal 3 April kemarin aku iseng nanya ke sales yang memang udah kenal. Eh, tanggal merah. Kata mbaknya, Sabtu saja langsung ke bagian mekanik.

Nah, Sabtunya aku BBMan sama bagian mekanik. Account ini sudah lama nongkrong di androidku. Waktu itu dia yang invite. Pikirku waktu itu, ini layanan jemput bola, mantaps lah….

Ini salinannya:

Pesona Fragrance: Siang Mas/Mbak

Pesona Fragrance: Mau nanya

Pesona Fragrance: Saya Agus

Pesona Fragrance: Foto Dikirim

Pesona Fragrance: Sesudah service kok roda seperti gak balance

Pesona Fragrance: Sama ada bunyi berdenyut di kolom mesin dan bagasi belakang

Pesona Fragrance: Bunyi berdencit maksudnya

Pesona Fragrance: Masih ada garansi service pa gak ya?

Pesona Fragrance: Thx

INDOMOBIL Nissan-Datsun SOLO BARU: Bapak service tanggal brp ?

Pesona Fragrance: Di jepretan foto ada tanggalnya, 17 maret

INDOMOBIL Nissan-Datsun SOLO BARU: Garansi service maksimal 15hari setelah service

Pesona Fragrance: Sebenarnya ban gak balance langsung saya rasakan dalam perjalanan pulang dari servis, tapi saya ada acara luar kota beberapa hari. Bunyi bunyi mulai muncul dalam perjalanan luar kota. Jadi sudah tidak ada garansikah?

gak dibaca

gak dibaca

Nih foto yang dikirim. Isinya adalah jepretan dari invoice workshop yang aku bawa. Dan kelihatan kalau foto yang aku kirim diabaikan.

Nah, obrolan BB hanya sampai di situ. Gak ada jawaban meskipun sekedar memastikan bahwa garansi sudah lewat. Basa-basi atau sekedar nilai etika sebuah profesi.

tak kunjung dijawab

tak kunjung dijawab

Lha ngapain aku dikasih pin BB bahkan diinvite kalau ternyata cuma diabaikan….

Bukan masalah garansi atau biaya servis yang kemudian menjadi “sesuatu” bagiku.

Tapi lebih kepada pengalaman yang nyata bukan sekedar cerita bahwa ternyata di bengkel resmi sekelas Nissan Solobaru sekalipun masih terselip sikap tidak profesional dan dari sisi mekanik pun ternyata ada juga yang abal-abal.

Meski bengkel resmi punya sistem kerja terstruktur dan standar kerja yang sudah baku, tapi kadang kita dapat bagian apes ketika mobil ditangani oleh mekanik yang belum pengalaman, baik karena baru, atau malah anak PKL. Bukankah sistem kerja dan standar kerja yang sudah baku itu juga sekaligus menjadi kelemahan, yakni sistem menjadi kaku.

Kalau bengkel umum yang berpengalaman bisa lebih luwes dalam menangani keluhan pada mobil kita. Bahkan kadang mereka “athikan”, akal-akalan tetapi hasilnya joss. Ini dari pengalaman pada Baleno-ku yang sering ditangani bengkel umum bahkan kadang aku bongkar sendiri kalau pas ringan.

Atau juga karena antrianku yang nomer 227 jadi pengerjaannya jadi buru-buru ya? Atau ada target tertentu dari managemen dalam menghitung laba perusahaan per harinya?

Sedulur ada yang punya pengalaman sama? Bagi dong….

Atau saran yang lebih baik tentunya diharapkan.

Maturnuwun.

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s