Angka Kecelakaan Lalulintas Meningkat, Kenapa?

Assalamu’alaikum…

Seringnya ane di jalan menjadi salah satu sebab sering pulanya ane ngeliat kecelakaan lalulintas. Wis pokoke sekarang ini jalur pendek Karanganyar-Solo sudah bujubuneng padetnya.

Padet sih gak seberapa, tapi ruwetnya itu loh… banyak yang alay…

Kembali ke judul, secara subyektif tanpa data statistik awam doang… kendaraan yang sering terlibat adu fisik di jalanan dengan efek ringan gores lecet sampai bawa nyawa adalah si matic yang bawa cewek-cewek atau motor sport entah bebek atau pejantan, wong Jowo bilang pit montor lanang.

Secara awam, si cewek bawa matic kayaknya sih karena gak prigel aja bawa motornya. Gak ada bekal riding skill. Belum matang secara emosi dan secara fitrahnya perempuan lebih ke perasaan dalam berkendara daripada gunakan akal untuk berhitung soal faktor keamanan. Boleh dieyel…

Yang jelas, gak ada fotonya, pasti gak enak liat foto kecelakaan… mending ke TKP aja langsung.

Secara awam pula, yang bebek super atau yang pit lanang, kayaknya karena sok gagah-gagahan. Mau tunjukin nyali. Mau gali top speed. Mau cari perhatian. Apa sih sebenarnya untungnya ngebut di jalanan?

Kalau sekedar mau bunuh diri jangan libatkan orang lain dong.

Tapi sesuatu itu bisa terjadi tentunya karena ada niat dan kesempatan. Apapun niatnya mau ngebut, tapi kalau gak ada kesempatan ya gak bakalan jadi.

Bebarapa tahun ini memang semakin banyak saja berseliweran motor sport cc besar. Anak SMP naik Ninja 250 gak eksklusif lagi. Begitupun CBR 250, atau yang lagi panas, si R15 atau R25. Lebay sih… ngapain ke sekolah aja mesti pake tuh motor.

Menurutku sih harga motor begituan termasuk mahal. Tapi menurut banyak tulisan di media, harga motor sport di Indonesia semakin terjangkau.

Apa memang karena tumbuhnya ekonomi masyarakat, tapi kenapa data keberadaan orang miskin masih tinggi? Atau karena jasa leasing yang menjadikan orang begitu mudah ngutang?

Belum lagi peran para blogger otomotif yang membanjiri halaman blognya dengan informasi terbaru soal top speed, power dan torque, facelift, dan semua hal yang memancing orang untuk ngebut.

Apapun itu, nyata benar kondisi ini menambah masalah baru. Banyak rider entry level yang belum cukup bekal riding skill dan stabilitas emosi yang ngebut untuk menggali top speed, ujung-ujungnya stum parkir aja ditabrak. Motor belum ada plat nomornya sudah nungging di bagian lakalantas kepolisian dan jadi tontonan. Meresahkan dan memprihatinkan.

Kalau baca berita, selalu saja ada kolom berita kecelakaan. Ada saja kecelakaan baru yang melibatkan motor sport baru dan biker baru yang lagi-lagi ABG. Topiknya gak lepas dari kecepatan tinggi. Fotonya juga horor-horor gitu.

Sebagai orang tua, kenapa juga mereka tega meracuni anak dengan motor sport kencang gitu. Iya sih, kalau racun tikus yang diberikan ke anak, kan kena jerat hukum pidana. Tapi kalau beliin motor sport kan gak kena…

Unsur sayang anak? Rasa sayang yang hakiki itu arahnya selalu berkaitan dengan unsur keamanan dan kebaikan. Kaidah menghindari madharat lebih didahulukan ketimbang nyari manfaat mesti dipakai. Mestilah disesuaikan dengan semua detail kondisi. Jangan asal mampu beli, lantas semua dituruti. Chaos dah…

Sebagai bakul motor, kenapa juga asal untung? Apa gak ada tanggung jawab moral bagi keamanan bersama. Kenapa juga para SPG selalu merayu calon “korban”nya. Yang gak yakin beli malah diyakin-yakinin untuk beli. Kalau perlu temannya yang dari leasing pasang wajah manis biar mau kredit motor.

Sebagai blogger, mesti juga secara sadar menyisipkan pesan-pesan keamanan dari segi moral dan mental. Bukan hanya hal teknis. Misalnya para blogger yang memberikan masihat kepada generasi alay soal tanggung jawab moral dalam berkendara, sepertinya akan lebih berasa ketimbang guru sekolah yang berbuih-buih menerangkan.

Sebagai pemerintah yang bertanggung jawab atas seluruh sendi masyarakat. Tegas dong… kan kalian sudah paling lengkap alatnya mulai undang-undang sampai segala perangkat pendukungnya. Jangan sampai undang-undang atau apapun namanya hanya menguntungkan sebagian pihak tapi abai kepada yang lain, atau bahan malah merugikan. Jangan mau pendapatan negara dari pajak (kendaraan bermotor) saja, tetapi gak mau capek ngurusin keamanan dan keteraturannya…

Wis embuh lah, suwe-suwe mumet dhewe…

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s