Liburan ke Pantai Telengria

Assalamu’alaikum.

Cerita santai saja. Sekedar nulis.

Mumpung anggota keluarga semua ngumpul, terus bikin acara. Sudah lama gak ke pantai, liburan pondok kali ini anak-anak minta ke Teleng Ria, Pacitan.

Ya sudah. Bismillah… tertanggal 6 Agustus 2014.

Perjalanan dimulai dari rumah jam 8 pagi. Santai poll… lewat Wonogiri, Baturetno, terusss… sampai tujuan kira-kira 3 jam.

telengriaTapi waktu di mulai masuk Baturetno, kami sempat mampir ke sebuah masjid. Anak-anak minta pipis. Anehnya, toilet putri ada di luar dekat jalan, malah toilet putra agak masuk.

Menjelang pantai, jalan yang kami lalui mirip banget yang di Tawangmangu. Kelok-kelok naik turun. Seru…

Masuk ke pantai masih sepi. Mulai ramai ketika sayup-sayup aku dengar adzan dluhur. Ternyata, pantai ini tidak luas-luas amat. Sempit malah. Terlihat seperti sebuah ceruk diapit perbukitan batu. Ombak juga tidak besar saat itu, tapi ada tulisan yang melarang pengunjung terjun berenang di pantai. Katanya belum lama ada kasus pengunjung yang meninggal terseret arus. Sayang, keindahan yang tidak terlalu itu masih saja dikotori oleh sampah yang bertebaran di sana-sini, seperti kebanyakan obyek wisata di Indonesia.

kotorAnak-anak aku biarkan bermain sesukanya. Aku duduk saja di batas kering pasir sambil menggendong Hilmi yang baru 4 bulan. Umminya ikut nyebur berbasah-basah dengan anak-anak. Biarlah meskipun sejenak, mereka tumpahkan keceriaan bersama keluarga. Aku sendiri jadi merenung. Entar ada ceritanya insya Allah…

Sekira jam 2 siang nampaknya mereka sudah puas bermain. Ambil baju kering terus menuju kamar bilas. Eh…. ternyata gak kondusif banget. Kamar gantinya gak ada ember atau bak air. Gak ada keran air juga. Yang tersedia cuma stop keran yang pipanya menjulang tinggi buat main hujan-hujanan. Buat laki-laki aja gak kondusif, apalagi buat jilbaber. Masalah tuh…

Ya sudah, istri dan anak gadisku gak pakai mandi bilas. Langsung masuk bilik ganti trus ganti baju. Gitu aja. Bau amis laut masih terbawa di mobil, bahkan sampai beberapa kilometer nantinya. Buat anak yang cowok meski rada ganjil gitu masih bisa mandi bareng dengan beberapa pengunjung. Wis.. not recommended lah…

Mau makan? Ada jejeran warung sih, tapi sepertinya kurang sreg. Lebih nyaman di pantai Indrayanti. Apa karena bukan hari libur ya? Ya sudah, canceled….

Lalu, sambil jalan pelan-pelan nyari warung makan kami pun menyusun rencana rute pulang. Lewat Pacitan kota, terus ke kabupaten Ponorogo, pilihan mau lewat Somoroto-Badegan-Wonogiri-Karanganyar, atau lewat Ponorogo-Goranggareng-Magetan-Tawangmangu-Karanganyar. Tapi ternyata susah juga nyari warung makan yang sreg di sepanjang perjalanan kami. Bahkan sampai keluar kota Pacitan, melewati kawasan perbukitan dan hutan, kami tak menemukan warung makan.

Gimana mau ada warung… lha wong terlihat kawasan hutan ini mudah longsor. Jalan berkelok-kelok. Sepertinya jalanan Tawangmangu-Sarangan jadi gak ada apa-apanya. Jarang penduduk. Gak nampak fasilitas umum. Masjid juga jarang. SPBU gak ada.

awas-longsorMenjelang Slahung ada jembatan ambrol. Kami lewat jalan alternatif. Selewat polsek Slahung baru ada SPBU. Tapi kami lewat saja, wong yang kami cari adalah warung makan, bukan warung bensin.

Di perbatasan Cilacap-Ponorogo, kami temui lagi jalanan yang berkelok lagi curam. Dan juga sueppi tenan. Mantaps…

Lalu kami masuk daerah Somoroto. Kami mau mampir dulu buat sholat jama’ qoshor di sebuah masjid di sisi luar kota Somoroto. Ada masjid yang secara fisik bagus. Tapi masya Allah. Keran air yang keren itu tak mengalirkan air. Kering…. ra kopen tenan…

air-gak-ngalirAkhirnya kami lanjutkan perjalanan hingga sampai pasar Somoroto. Ada masjid yang aku pernah mampir. Meski kecil, airnya lancar.

Selesai sholat, lihat jam dinding menunjuk angka 4. Kami pun lanjutkan perjalanan. Dan dengan penuh perjuangan, akhirnya kami mampir ke warung prasmanan Kensari…. Purwantoro. Jam 5-an sore. Allahu Akbar. Untungnya anak-anakku gak ada yang rewel. Sudah biasa makan gak teratur…

Lihat panel dashboard, ternyata sejak dari pantai, kami sudah menempuh perjalanan sejauh 100-an km lebih malah, tanpa mampir mandi bilas dan makan. Alhamdulillah, terselip rasa bangga dengan ketegaran dan ketenangan anak-anakku dalam menahan lapar. Acara makan selesai hampir jam 6. Sudah waktunya maghrib.

Selesai makan, perjalanan dilanjut. Sampai di daerah antara Ngadirojo dan Wonogiri kota, anak-anak ngajak mampir ke warung bakso. Lah….

Baru saja makan kenyang, kok sekarang mau bakso…???

Kami pun mampir ke warung bakso Titoti. Jarum jam mendekati angka 7. Pesan bakso 9 mangkok sama siomay 1 porsi. Habis makan bakso sekalian sholat jama’ qoshor maghrib-isya’. Di bagian belakang warung ada musholla kecil tapi nyaman.

kecil-tapi-nyamanTerus terang, aku agak merasa riskan untuk makan bakso di sembarang tempat. Aku pernah dapat info dari seorang teman yang punya kenalan seorang pemburu celeng di wilayah Wonogiri. Katanya, berburu celeng sangat menguntungkan. Pesanan tak pernah berhenti. Katanya sih buat campuran bakso. Pesanan terbanyak datang dari Jakarta dan Solo. Nah lo…. ati-ati beli bakso. Untuk membedakan secara langsung ya dari aroma bakso dan kuahnya. Kalau ada aroma wengur, berarti ada campuran daging celeng. Secara teknis susah juga kan….

Selesai mbakso, kami pun pulang. Alhamdulillah nyampe rumah sekitar jam 9 malam. Bersih-bersih badan. Cooling down sebentar terus tidur.

O iya, sepanjang perjalanan seharian tadi gak mampir SPBU. Dari penunjuk bahan bakar, start dengan bar penuh, nyisa separo. Lupa nyetting odometer, tapi kelihatan dari average: 12,5. Lumayan lah dengan kondisi jalan pegunungan.

Alhamdulillah….

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s