Banjir Nasional, Usaha Mengubah Paradigma

Banjir di ibukota emang lain, Gan…

Jadi bukti emang air gak pandang bulu. Terjang semua. Gak peduli kaya miskin, tempat penting dan gak penting (ada loh tempat gak penting, mesti dihilangkan, tempat pelacuran misalnya). Jalan kampung juga jalan di kota. Rumah gedhek sampai gedongan. Semua-mua ya, Gan…

Sebagian orang sering berasumsi bahwa penyebab banjir ini karena curah hujan tinggi yang melanda.

Sebagian lagi bilang karena daya serap kawasan yang pegunungan yang biasanya mengelilingi kota (puncak misalnya) yang semakin melemah.

Dan tiap orang punya komentarnya sendiri.

Eh, di pihak lain, para politisi saling mencaci dan mencela hujan dan banjir karena pemerintah atau gubernurnya.

Lebih parah, ini juga ditambah liputan media. Coba dicermati, gak terasa kalau gak pelan-pelan…

Judul-judulnya, Gan, malah ngancam, menekan, kadang menyesatkan. Lihat saja: “Ancaman Banjir Belum Berakhir”, “Banjir Besar Masih Mengancam”, “Banjir dan Rob Ancam Tenggelamkan Jakarta”, “Urat Nadi Bisnis Tersumbat Banjir” atau banjir Jakarta salah siapa?

Subhanallah, bisa menjauhkan kita semua dari Allah Ta’ala dan RasulNya. Bisa ngilangin tauhid dan akidah kita secara pelan-pelan, Gan.

BAHAYA KEHILANGAN AQIDAH LEBIH BESAR DARI KEHILANGAN HARTA BENDA SEBANYAK DUNIA DAN SEISINYA…!!!

Yuk, mutar badan dulu, Gan…

Hal (banjir) ini tentu harus dipandang secara positif dengan dasar keimanan, bukan sekedar mencela apalagi menyalahkan.

Langkah efektif yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam saat ini adalah membantu korban, kemudian merencakan kembali kesiapan kita agar banjir itu tidak kembali terjadi. Tentu tidak cukup hanya dengan regulasi dan peralatan semata. Namun dibutuhkan cara pandang baru, cara berpikir berperilaku, kesadaran dan partisipasi setiap kaum Muslim, khususnya di Jakarta. Keledai dungu aja gak jatuh ke lubang yang sama dua kali, Gan. Apalagi orang beriman…

Ehm… Memang kelihatan sederhana, namun sungguh, ini serius, nyangkut keimanan. Karena gak ada setetes air hujan (termasuk banjir) yang membasahi bumi ini kecuali atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang terjadi dari ujung kaki hingga ujung langit, dari pagi hingga malam, gumpalan awan, petir, hujar deras, banjir bandang,  tak terkecuali adalah karena kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Karenanya, nyalahin alam, hujan, sama halnya nyalahin takdir yang telah dijatahin Allah buat kita. Itulah tauhid. Trus kenapa juga Allah bikin acara begituan? Klik disini, Gan. Nambah lagi, nih:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَاباً ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS: Al-A’raf: 57)

Secara default, proses alam itu semua sebagai kabar gembira buat kita, Gan.

Karenanya, jangan pernah sedikitpun menyalahkan alam, hujan atau banjir. Hujan itu sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk Allah. Tanpa hujan, kekeringan akan melanda dan tanaman akan mati. Jika Allah tak berkehendak, semua tak akan terjadi. Sebaliknya, jika Allah berkendak, maka semua juga pasti akan terjadi.

Lagi….

Mengapa rahmat yang menggembirakan ini bisa menjadi bencana bagi manusia? Itulah masalahnya. Mengapa di antara kita justru tak berfikir kesini? Klik lagi, Gan.

Allah pasti tidak salah menurunkan hujan, sementara jika turun hujan  dan berdampak menjadi musibah, mengapa kita tak berpikir?

Musibah selalu datang dan pergi, itulah sunnah  hidup. Ada yang menghadapi dan menyikapinya secara arif, sehingga musibah itu mendatangkan berbagai kebaikan. Tapi tidak sedikit yang keliru menyikapinya, sehingga musibah justru semakin memperpanjang penderitaan.

Bedanya, orang beriman menghadapi musibah selalu dengan cara positif.  Kita harus memandang musibah bukan sebagai kekejaman Allah Subhanahu wa Ta’ala,  seakan-akan Allah gak ada kasih sayang pada manusia. Datangnya musibah, justru agar membuatnya manusia menjadi sadar serta menyesali kekhilafannya.

Salah satu cara menghadapi musibah ini adalah sikap ridha dan sabar. Nerima  musibah yang kita hadapi dengan hati yang ridha. Jikapun kita gak ridha dengan apa yang terjadi, hal itu juga gak bisa ngubah apa yang telah berlaku. Dengan keridhaan justru hati jadi tenang, pikiran jadi jernih dan lapang untuk nemuin solusi. Sehingga kita dapat bangkit dengan penuh ketegaran melewati musibah. Tentu bukan ridha kalau musibah datangi lagi kita diam saja. Ya Gan…

Karenanya, cara selanjutnya melihat musibah harusnya kita lakuin muhasabah  (evaluasi) dan mengambil pelajaran.  Karena musibah sebenarnya berfungsi untuk menyadarkan kita dari kesalahan-kesalahan memelihara alam selama ini. Sayang, banyak manusia tidak berfikir kesini dan malah mengabaikannya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS: Al-Baqarah: 11-12)

Maka, marilah kita evaluasi diri, kenapa musibah itu terjadi? Adakah itu merupakan ujian yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita sebagai peningkatan kualitas keimanan? Atau musibah tersebut merupakan teguran atas kekeliruan kita dalam mengelola serta memanfaatkan sumber-sumber daya yang diamanahkan kepada kita? Atau adakah kesalahan dan dosa-dosa lain yang kita lakukan kepada Allah? Jika benar karena dosa-dosa besar, mari kita bertobat, Gan.

Muhasabah ini sangat penting agar kita menyadari titik kesalahan dan kekeliruan kita. Dari cara pandang dan cara berpikir yang begini baru kita memulai langkah riil sebagai perwujudannya.

Ayo, Gan….!!!

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s