Duduk Ngangkang

Assalamu’alaikum

bonceng ngangkang

pas ngeluyur ke Madura, Gan…

Membaca blog berita kok lagi heboh soal Duduk Mengangkang. Menurut berita, tanggal 2 Januari 2013, Pemerintah Kota Lhokseumawe Aceh memberlakukan larangan bagi perempuan duduk mengangkang saat diboncengkan dengan sepeda motor. Hal itu tertuang dalam surat edaran yang ditandatangani Wali Kota Lhokseumawe pada hari Rabu itu.

Duduk dibelakang ya? Kalau mboncengnya di depan gimana? Itu namanya mboncengin. Belum tentu dong, wong yang pegang kendali tetep yang laki di belakang? Ah embuh ah… pro dan kontra tetep ada. Apapun masalahnya, harus ada pro dan kontra, itulah Indonesia…

Sebenarnya bukan pada masalah pro-kontranya itu yang bikin aku ngetik… tapi alasannya, dan juga sudut pandangnya, juga situasi dan kondisinya dan faktor-faktor lain yang melatarbelakangi munculnya sebuah pro dan kontra terhadap sebuah kondisi (keputusan), apapun itu…

Tapi ane gak akan ngetik yang berat-berat Gan. Gak siap dengan konsekuensinya, hehe…

Ane cuman mau ngetik apa yang ada di hati ane. Perspektif pribadi dari mata ane yang kadang soak ini…

Sungguh, ane gak akan nyuruh istri ane untuk hal-hal ini (kecualiiiiiii kepaksaaaa banget):

–          Duduk diboncengin laki-laki bukan “mahram” (awas jangan salah dengan “muhrim”, satu ke barat satu ke timur tuh maksudnya). Perkecualian: ane lagi klenger di rumah sakit, istri mau nglairin, trus gak ada siapa-siapa kecuali tetangga. Itu contoh kepaksa.

–          Istri mbonceng ngangkang, meski sama ane sendiri. Selama belasan tahun bermotoria, masih tetap aman tuh istri mbonceng miring/nyamping. Anggun malah… baik di jalanan kota, kampung, padat, sepi, sudah semua… Ane sudah nyoba pake MX, nyaman kok. Pake si kebo masih nyaman juga tuh… jujur memang istri pernah ngeluh bonceng si kebo, tapi itu karena njenthitnya, lama-lama biasa juga kok (Mosok kebo kok njenthit ya… koyok jingklong ae). Apalagi pake PX, bremmm…..bremmmh….ngacir dah. Perkecualian, ane sama istri naek mobil…. ya sudah, ngangkang is oke…

–          Dengan alasan keamanan, istri mesti pake celana panjang. Gak deh… setahu ane ada larangan dalam Islam (yang ane yakini) kalau perempuan tuh gak boleh nyerupain laki-laki dalam pakaian atau gaya, dan sebaliknya laki-laki juga dilarang tuh bergaya macem perempuan. Kalau pun istri pake celana panjang, itu mesti masih pake jubah (buat perempuan) yang longgar diluarnya biar gak nonjolin bentuk badan istri. Fungsi celana panjang adalah agar lebih berhati-hati dalam nutup aurat… makin rapet makin oke. Ya kan? Ini gak ada kepaksanya.

Begitulah ane sama istri… dan istri sudah oke tuh. Malah dia lebih ngerti ketimbang ane, Gan…

Soal orang lain gak setuju atau setuju, itu hak mereka kan… dan masing-masing pilihan akan ada konsekuensinya. Baik dunia maupun akhirat ya Gan.

Mosok soal motor aja pake bawa-bawa urusan agama…!!! Dasar orang Islam lo…

Eh buat ane, Gan, bukan soal motornya kok. Tapi cara kita membawa diri itu yang jadi perhatian ane. Itu juga gak maksa kok buat orang lain.

Kembali ke Aceh, sudahlah, jangan keburu kontra dulu… coba empati dulu. Siapa tahu memang itu yang terbaik. Kalau memang belum cocok, jangan-jangan kita yang perlu koreksi diri…

Misalnya nih:

–          Apakah memang kaum perempuan kita masih suka ngumbar aurat di muka umum atau pas berkendara? Apalagi pake sepatu hak tinggi? Selain ngelanggar agama, juga kesopanan dan keamanan berkendara to?
–          Apakah betul kaum laki-laki kita kalau ada perempuan seksi di muka umum jadi kacau otaknya? Kelopak mata ngancing gak mau nutup. Leher bergerak seperti di-remote ke satu obyek. Selain ngelanggar agama, juga kesopanan dan keamanan berkendara to?

O iya, kalau merhatiin alasan pemerintah Aceh sih lebih didasarkan kepada aspek agama ya.

Soal keselamatan berkendara sebagaimana diklaim oleh banyak pihak yang cenderung tidak setuju menurut ane sih masuk akal juga, cuman bukan faktor yang sifatnya darurat. Toh sekali lagi, selama ini ane mboncengin istri duduk nyamping juga oke-oke saja to? Bahkan alasan agama mestinya lebih utama buat diperhatiin ketimbang alasan dunia. Maksudnya, kalau cuman nyari keselamatan dunia (mbonceng ngangkang) ngapain kita mesti ambil resiko celaka di akhirat yang kekal (karena melanggar kaidah agama)? Bahkan sebaliknya, dengan kita tetap menjaga diri agar tidak melanggar norma agama, toh kita masih bisa mengusahakan keselamatan (berkendara) dengan cara-cara lainnya?

Soal Aceh dengan Islam-nya, ane inget Gan ada sebuah tulisan di buku tua. Ini ane ketik ya;

…Melihat kenyataan ini, suatu hari, dengan suara masygul, Daud Beureueh pernah berkata: ”Sudah ratusan tahun syari’at Islam berlaku di Aceh. Tetapi hanya beberapa tahun bergabung dengan RI, sirna hukum Islam di Aceh. Oleh karena itu, saya akan pertaruhkan segalanya demi tegaknya syari’at Islam di Aceh. Maka sejak itu lahirlah gerakan Darul Islam di Aceh. (Soekarno, Ir. Lahirnya Pantjasila, Guntur, Yogyakarta, 1947)

Bukan maksud apa-apa, cuman ngeliat aspek sejarah, kenapa orang Aceh sedemikian (masih) kuatnya sama aturan Islam.

Jadi soal bonceng ngangkang gimana? Kembali kepada kejujuran dan kesadaran kita sendiri saja kalau kejujuran dan kesadaran itu masih ada…

Monggo silakan direnung, tapi jangan berdebat kusir. Curhat mah boleh-boleh saja to?

monggo... serius boleh, lucu juga boleh

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s