Tutup Pelek Honda Stream (di)cungkil

Beberapa hari lalu aku dan seorang teman nyari barang bekas ke pasar klithikan Semanggi bawa Honda Stream yang baru kutebus.

Stream kami parkir di luar pasar dengan arahan petugas parkir. Lalu kami masuk pasar. Sekitar setengah jam kami selesai belanja. Waktu kami keluar pasar dan sudah di dekat Stream, tiba-tiba ada orang nawari kami tutup pelek Stream atau wheel cap atau tutup docking velg, gitu kali namanya.

Mas, butuh gak nih, tutup pelek buat mobilnya. Tuh mobilnya kan bolong pelek kanan depan. Mosok mobil bagus peleknya bolong. Si abang nawarin sambil tangannya menunjuk ke pelek kanan depan Stream kami yang kulihat memang bolong. Gak sempat ambil gambar. Baca lebih lanjut

Iklan

Sensor Pintu di Panel Dashboard Livina Tetap Menyala Meski Pintu Menutup

Dugh… pintu belakang Livina ditutup sama istriku. Tapi lampu yang di atap belakang masih nyala.

Dhuarrr… masih tetap nyala…

Lalu aku sendiri yang mbanting pintu…. Dhuarrrrrhhh. Mati tuh lampu. Bener mati karena pintu nutup atau karena membran lampu yang putus, shock karena goncangan.

Jalan tuh mobil.

Eh, di tengah jalan sensor di dashboard nyala. Pintu ada yang belum nutup. Tersangka utama langsung diarahkan ke pintu belakang. Dicek, ternyata masih ngunci. Coba dibuka dan dibanting lagi masih tetap nyala. Ya sudah, abaikan dulu. Baca lebih lanjut

Memilih Sekenan Mobil Honda Tahun 2005, CRV Gen 2 atau Stream Gen 2 Facelift

livina thuleMenyesuaikan kondisi kebutuhan, aku lagi mau nyari kendaraan kedua. Targetnya matic tapi gak usah yang muda-muda amat. Kenapa matic? Biar gak pegel di kaki aja, Solo macet parah. Kenapa bukan keluaran baru? Emang kenapa kalau sekenan? Hehe… Kenapa Honda? Gak kenapa-napa, kebetulan saja.

Nah, berangkat dari motif tadi, mestinya gak jauh-jauh dari Livina yang 7 seat, bisa buat pasang rak sepeda di belakang, bagasi lapang dan dek rata jika row 3 dan 2 direbahin.

Nah, kebetulan saja yang datang jadi penawaran adalah 2 unit Honda. Ya itu tadi, cuman kebetulan saja kalau dua-duanya Honda. Baca lebih lanjut

Foglamp Akuarium di Grand Livina

Karena kebanjiran Ahad kemarin, bola lampu kabut kiri Livina copot. Ditemukan tersangka berupa beberapa potongan ranting dan seutas kawat yang terlilit di kabel lampu dengan bantuan air yang membanjiri kolong mesin setinggi lutut anak usia SD.

akuarium

Copotnya lampu pun sebenarnya gak ketahuan saat itu juga, tapi pas pagi harinya bersihin mobil kok di batok foglamp berubah jadi akuarium gitu. Dan karena bola lampu nempel di bodi mobil, ada dua lubang terbentuk karena panasnya bola lampu. Bagian bawah bumper yang plastik itu jadi saksi.

Aku lalu kontak teman bengkel.

Bang, kasus nih… saya butuh segera diberesin bisa pa gak? Bla bla bla…

Dijawab sama dia,

lubang di kolong bumper

Agak susah Kang. Mesti bongkar bumper depan yang bagian dalam. Butuh kunci. Jadi makan waktu. Gak bisa langsung selesai. Mobil mesti dibawa ke bengkel saya dulu. Gak bisa dikerjakan di rumah Njenengan….

Ya sudah lah.. ini ada acara ke Sragen seharian je… Ya sudah, batal saja. Biarin gitu dulu.

Oke Kang, sorri deh.

Gak papa. Santai aja…

Akhirnya mobil tetap aku pakai aktifitas. Bola lampu yang lepas aku ikat di salah satu sudut kolong mesin yang longgar.

Nah, saat longgar dari acara, iseng iseng aku minta tolong sama beberapa teman yang badannya tinggi tapi ceking berikut selang yang biasa dipakai buat air RO.

Bang, selang agak panjang ya. Buat nyedot air di batok lampu. Habis itu, lampu dipasang pakai tangan yang ceking tapi panjang. Sedot airnya, masukkan bola lampu lalu puntir ke kanan dan selesai.

nyala

Gak sampai setengah jam beres dah…

Pengalaman:

Kadang, tenaga yang profesional dan alat lengkap serta teknologi terkini bisa menggiring kita ke situasi yang lebih rumit dan sulit terselesaikan.

Ternyata Stiker Tidak Menyebabkan Kerusakan Pada Cat Mobil

Akhir tahun 2013 ketika Livina baru kupinang, aku langsung bawa dia ke bengkel stiker, ada dibilang skotlet. Bukan soal gaya atau apa, tapi lebih ke tindakan preventif dari provokasi anak-anak yang beberapa masih balita. Main sana main sini gek gek bikin sebab mobil gores. Ketimbang emosi sama anak kan mending pasang stiker.

Tapi waktu itu juga ada beberapa teman yang kasih warning, stiker bisa bikin rusak cat loh… Nglothok catnya… Alias ngelupas dari bodi.

Masukan dari teman jadi pertimbangan, tapi aku juga punya pertimbangan sendiri. Dan lebih kepada jaga emosi tadi, aku lebih milih tetap masang stiker. 

Akhirnya aku ditemani bolo setiaku datang ke bengkel stiker di daerah Kartasura, mas Sriyadi.  

Kap mesin, bumper belakang dan frame kaca samping kanan kiri dipasangi stiker hitam, juga rumah spion dan sebagian gril. Sisi kanan kiri bodi ada garis putih dan di buritan ada tambahan motif. Persis taksi. Wkwkwk….

Nah

4 tahun kemudian alias kemarin sore, aku mau ganti stiker. Aku datang lagi ke mas Sriyadi Kartasura dan ditemani bolo yang sama dengan 4 tahun lalu untuk memenuhi hajat itu. 

Stiker lama dilepas. Dan ternyata aman aman saja. Baik-baik saja… Kap mesin tetap kinclong, spion masih klimis, bumper dan lain lain masih sip juga.

Jadi kenapa ada info stiker bisa ngerusak cat? Pasti bukan hoax kan? 

Mungkin saja, cat yang terkelupas itu bukan cat orisinil atau memang kualitasnya gak bagus.

Jepretan berikut adalah tampilan depan yang sekarang. Sekedar refreshing saja. Pas parkir di salah satu titik di Solo dibawah kanopi warna hijau tosca. 

Telur Asin Brebes

Pulang dari acara di Jakarta, keluar lewat brexit, kok mata kepincut telur asin warna warni. Berhenti sajalah ketimbang jadi pikiran.

Mampir di salah satu kios yang banyak berjejer. Minta disiapkan buat oleh oleh masing-masing 5 biji, mulai yang bakar, panggang hingga pindang. Juga yang warna pink dan kuning yang di etalase. Tapi ternyata cuma hiasan gak bisa dimakan. Hehe… 

Sampai di rumah ternyata sudah ada telur asin reguler produk adikku sendiri dan aku memang langganan setianya. Aku memang hobi makan telur asin tanpa nasi sejak kecil… 

Produk adik disisihkan dulu. Mau nyoba yang dari Brebes yang kabarnya sudah terkenal. Adik yang punya produk sendiri pun aku kasih sekedar buat pembanding.

Dan ternyata podho ae rasane… 

Perbedaan hanya terasa di aroma dan warna kulit juga kuning telurnya. Tapi selebihnya menurut daya cecap lidahku yo sama ajah… 

Opo ilatku  sing trobel yo… 

Tapi yang penting, rasa penasaran dan ati yang kepincut sudah terobati… Ketimbang rindu dan kebayang barang hayo… 

Gowes Haji Rusia

Hidayatullah.com–Mengendarai sepeda sepanjang ribuan mil, seorang Muslim asal Rusia akhirnya mencapai kota suci Makkah untuk memenuhi impian dalam hidupnya menunaikan ibadah haji.

Bulat Nassib Abdulla, 24 tahun, berangkat dari Rusia sejak hari pertama Ramadhan pada 6 Juni 2016 lalu.

Selama tiga bulan terakhir, ia mengayuh sepedanya mencapai Arab Saudi untuk mengikuti ziarah tahunan tersebut.

Wakil Kementrian Haji dan Umrah Saudi, Mohammed Abdulrahman Al-Bejawi menyambut Abdulla di Madinah sebelum menuju ke Makkah, lapor harian lokal Arab, Sabq.

Abdulla bukanlah jama’ah haji pertama yang bersepeda ke Makkah untuk berhaji.

Bulan lalu, seorang warga China juga menjadi berita utama karena ia bersepeda sejauh 8,150 km dan telah mencapai Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji.

Keduanya pun bukan muslim pertama yang menantang diri untuk tiba di Makkah dengan metode yang berbeda dari biasanya.

Pada tahun 2012, Muslim Bosnia Senad Hadzic, 47 tahun mencapai kota suci Makkah dengan berjalan kaki untuk melakukan ibadah haji.

Selama perjalanannya, pria ini berjalan kaki  hampir 3.600 mil (5.900 km) jauhnya dari desanya di Bosnia ke Kota Suci Makkah.

Bulan Mei 2014 lalu, juga ada sekelompok jama’ah asal Malaysia naik sepeda dari Kuala Lumpur ke Madinah.

Gowes Umrah Malaysia

Hidayatullah.com—Pasangan suami isteri Melayu kompak melakukan perjalanan menunaikan ibadah umrah dengan mengayuh sepeda pancal, bakal mencapai hajat mereka segera setelah mengembara sembilan bulan lamanya.

Warga Malaysia — Ahmad Mohd Isa (27 tahun) dan istrinya Noradilah Mohd Sapie (28 tahun)– memilih untuk mengayuh kendaraan roda dua ke tanah suci.

Sebelumnya, pasangan itu dilaporkan nekat menantang kemampuan mereka melakukan ekspedisi bersepeda  bertajuk ‘Kembara Memburu Hikmah’ (KMH), dengan mengayuh sepeda dari Malaysia ke Makkah sejauh 17.000 kilometer.

Setelah bertolak dari Malaysia, mereka harus melintasi 13 negara lain dalam waktu hamper setahun, yaitu; Thailand, Myanmar, India, Nepal, Pakistan, China, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Afghanistan, Iran, UEA, sebelum akhirnya menjejakkan kaki ke Arab Saudi sebagai negara ke-13.

Dalam wawancara melalui kiriman email dengan Mediacorp Singapura, pasangan itu mengatakan bahwa mereka kini sudah berada di Afghanistan, negara ke-11 dari 12 negara yang harus dilalui. Ini berarti tinggal lagi 1 negara harus direntasi sebelum tiba di Arab Saudi.

“Alhamdulillah, selama 27 hari kami di Uzbekistan yaitu dari 11 Desember 2016 hingga 6 Januari 2017, sekarang kami sudah berada di Afghanistan. Insya Allah, sesuai rencana kami, perjalanan berikutnya (sesuai urutan) adalah Iran, Emirat Arab dan Arab Saudi, “kata mereka dikutip Mediacorp, Rabu (11/01/2017).

Menurut Ahmad dan Noradilah, tantangan besar yang mereka lalui sepanjang petualangan itu adalah masalah komunikasi dengan masyarakat di suatu negara.

“Bahasa yang mereka tuturkan seperti Urdu, Uighur, Persia dan bahasa lokal lainnya tidak dapat diterjemahkan menggunakan setiap aplikasi di internet.

“Mereka pula sebagian besar tidak memahami bahasa Inggris atau Arab. Maka ini menyulitkan komunikasi antara kami untuk saling bertukar pandangan, “ujar pasangan itu memberitahu.

Bersepeda di Musim Salju

Sungguhpun begitu, pengalaman yang diraih ada juga yang memberi kesan mendalam kepada pasangan yang memang ‘kaki sepeda’ dan membesar dengan bersepeda dari zaman sekolah sampai universitas.

Di halaman Facebook KMH, pasangan itu berbagi “pengalaman hebat” ketika bersepeda di musim salju di Kazakhstan – dengan mengupload video – karena itulah kali pertama mereka bergelimang dengan salju!

Ternyata tidak mudah karena mereka beberapa kali tergelincir. Namun menurut pasangan berkenaan itu “membuat hati mereka semakin kental untuk melanjutkan perjalanan”.

Makanan tak Terputus

Selain itu layanan baik yang diterima cukup membuat mereka tersentuh.

“Berbagai bentuk layanan dan bantuan yang di luar harapan kami terima dari insan-insan berhati mulia sepanjang perjalanan ini dan semuanya membuat kami tersentuh.

“Sejak memasuki negara-negara ‘STAN’ (Pakistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Afghanistan, Kazakhstan), rezeki dalam bentuk makanan tidak putus-putus. Kami tidak sempat untuk merasa lapar.  Setiap kali diundang makan, makanan penuh terhidang atas meja, “ kata mereka, menjelaskan adat budaya warga yang memanjakan para tamu dengan berbagai jenis hidangan.

“Semoga Allah merahmati hidup mereka yang memberikan bantuan, dukungan dan mendoakan kami apakah kami tahu atau tidak. Setiap kebaikan itu ada balasan dan rahmat di sisiNya.”

Sujud Syukur depan Ka’bah

Setelah sekitar sembilan bulan perjalanan mereka, yaitu sejak April 2016, kini Noradilah dan suaminya semakin hampir ke tujuan utama, yang diidam-idamkan setelah sekian lama.

Kedatangan mereka di Makkah nanti pasti menjadi satu momen bersejarah dalam hidup mereka dan tidak ada tandingannya.

Setelah menjejakkan kaki di Makkah, hal pertama yang ingin dilakukan adalah “bersujud syukur di hadapan Ka’bah”.

Ahmad dan Noradilah berharap berada di Makkah menunaikan umrah selama dua minggu sebelum pulang ke pangkuan keluarga tercinta di Malaysia.

“Kami rindu sekali menginjakkan kaki ke tanah air sendiri setelah ke tanah suci Makkah dan Madinah. Selain itu kami juga rindu ingin mendekap kedua orang tua kami yang tidak putus-putus mendoakan perjalanan kami agar selalu lancar dan aman, ” ujarnya.

Selain melakukan misi kemanusiaan di setiap negara yang dijelajah, pasangan suami istri itu turut membawa tantangan merekam data terkait sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat Islam.

GSX-R150: Gak Umur Wis… 

Adalah 24 Januari 2017 silam mas Apri dari Suzuki Bejen yang dipindah ke Sragen karena tenaga dan pikiran beliau dibutuhkan di sana telah mengirim foto si GSX-R150 via BBM. 

Dibumbui sedikit rempah dan penguat rasa, ditawarkanlah racikan terbaru Suzuki di lini motor laki ini. Matur nuwun Mas atas info dan keramahannya. Dasar piyayine alus…

Sebenarnya dalam hati kecil yang paling dalam, gak perlu dirayu pun aku sudah kesandung sama si GSX-R150 ini, juga yang GSX-S150. Tapi mengingat, menimbang, dan menghitung umur ini loh…  Gak mentolo nek aku sih nyemplak motor ginian. Marakne anak cemburu, ngenes lan nelangsa… Pakne gak gelem kalah Cung…. Ngono iku… 

Ditambah lagi bisikan dari bolo gowes, Sampeyan ki mending nyemplak bongso metik rodo gedhe ngono ae Kang…  Ketok kalem, handsome… Halah… 

Misale ngene iki yakne.. Sing ndi? 

Gowes Tantangan Tanjakan

Ada rute yang sangat menantang karena tanjakannya, khususnya bagiku dan bolo gowesku. 

Bermula dari tantangan oleh salah seorang kenalan bolo gowes. Ada dua rute tantangan, 

  1. Rute sekitaran kuburan delingan. Rute ini sudah aku libas  habis semuanya. Katanya ada tanjakan ekstrim tapi dari semua rute di daerah ini semua sudah kelibas dengan mudah tanpa kesulitan apapun.
  2. Rute desa Gondangrejo di daerah Plosorejo, Matesih. Rute ini yang jadi catatan kali ini. 

Kamis kemarin sebenarnya adalah kali kedua gowes kami. Kali pertama boleh dibilang gagal total karena dari kami yang bertiga, semua goweser terkapar. Gak kuat nanjak lagi. Nuntun pun berat, nggenjot tak ada beda.

Kali kedua ini boleh dibilang gagal lagi. Dari berempat hanya satu yang pecah rekor. Yang tiga terkapar di tiga titik berbeda. 

Sebut saja kami adalah aku, Muh, Is, dan Zain.

Rute dimulai dari Karanganyar hingga satu titik di jalan alternatif Matesih yang berjarak kira kira 12km saja. Naik mobil biasanya 20an menit. 

Aku ambil gambar dari Google map. Inilah dia. 

Biasanya para goweser lurus saja ikuti jalan alternatif hingga pertigaan kantor pos Matesih. 

Tapi tantangan kali ini adalah ambil lajur kiri di pertigaan kecil itu. Ada papan petunjuk di sisi kiri jalan. Masuk desa Gondangrejo Plosorejo.

Langsung disambut dengan tanjakan rada belok kanan lalu landai 5 meter disambung lagi tanjakan kedua dan lebih panjang lagi hingga berujung di dekat masjid kiri jalan. Mampir masjid ambil wudlu dan dua raka’at lalu sambung terus ke timur sampai ada tanjakan yang lebih jos lagi…. 

Di tanjakan seri ketiga inilah Zain terkapar. Di belakangnya ada Muh yang slip karena roda nyentuh lumut licin, nuntun wis karena gak mungkin langsung genjot  tanpa ada ancang-ancang. Lalu kemudian Is menyusul terkapar di dekat Zain selonjoran  kaki. 

Lalu dirikulah yang dengan penuh hati-hati menapaki tanjakan. Berbekal pengalaman mata dari yang bertiga, dan onthel yang paling superior dari yang bertiga, dengan sangat pelan di genjotan tapi nafas disiplin tinggi mesti dijaga serta support teriakan dari yang terkapar mampu memompa semangat dan tenaga hingga takluklah sang tanjakan. 

Klêmun klêmun… 

Nafas tersengal… 

Tenggorokan kering… 

Istirahat dulu… 

Membasahi kerongkongan dengan air sebentar hingga dunia kembali terang. Haha… 

Ada yang ikutan mau nyoba…?