Ternyata Stiker Tidak Menyebabkan Kerusakan Pada Cat Mobil

Akhir tahun 2013 ketika Livina baru kupinang, aku langsung bawa dia ke bengkel stiker, ada dibilang skotlet. Bukan soal gaya atau apa, tapi lebih ke tindakan preventif dari provokasi anak-anak yang beberapa masih balita. Main sana main sini gek gek bikin sebab mobil gores. Ketimbang emosi sama anak kan mending pasang stiker.

Tapi waktu itu juga ada beberapa teman yang kasih warning, stiker bisa bikin rusak cat loh… Nglothok catnya… Alias ngelupas dari bodi.

Masukan dari teman jadi pertimbangan, tapi aku juga punya pertimbangan sendiri. Dan lebih kepada jaga emosi tadi, aku lebih milih tetap masang stiker. 

Akhirnya aku ditemani bolo setiaku datang ke bengkel stiker di daerah Kartasura, mas Sriyadi.  

Kap mesin, bumper belakang dan frame kaca samping kanan kiri dipasangi stiker hitam, juga rumah spion dan sebagian gril. Sisi kanan kiri bodi ada garis putih dan di buritan ada tambahan motif. Persis taksi. Wkwkwk….

Nah

4 tahun kemudian alias kemarin sore, aku mau ganti stiker. Aku datang lagi ke mas Sriyadi Kartasura dan ditemani bolo yang sama dengan 4 tahun lalu untuk memenuhi hajat itu. 

Stiker lama dilepas. Dan ternyata aman aman saja. Baik-baik saja… Kap mesin tetap kinclong, spion masih klimis, bumper dan lain lain masih sip juga.

Jadi kenapa ada info stiker bisa ngerusak cat? Pasti bukan hoax kan? 

Mungkin saja, cat yang terkelupas itu bukan cat orisinil atau memang kualitasnya gak bagus.

Jepretan berikut adalah tampilan depan yang sekarang. Sekedar refreshing saja. Pas parkir di salah satu titik di Solo dibawah kanopi warna hijau tosca. 

Telur Asin Brebes

Pulang dari acara di Jakarta, keluar lewat brexit, kok mata kepincut telur asin warna warni. Berhenti sajalah ketimbang jadi pikiran.

Mampir di salah satu kios yang banyak berjejer. Minta disiapkan buat oleh oleh masing-masing 5 biji, mulai yang bakar, panggang hingga pindang. Juga yang warna pink dan kuning yang di etalase. Tapi ternyata cuma hiasan gak bisa dimakan. Hehe… 

Sampai di rumah ternyata sudah ada telur asin reguler produk adikku sendiri dan aku memang langganan setianya. Aku memang hobi makan telur asin tanpa nasi sejak kecil… 

Produk adik disisihkan dulu. Mau nyoba yang dari Brebes yang kabarnya sudah terkenal. Adik yang punya produk sendiri pun aku kasih sekedar buat pembanding.

Dan ternyata podho ae rasane… 

Perbedaan hanya terasa di aroma dan warna kulit juga kuning telurnya. Tapi selebihnya menurut daya cecap lidahku yo sama ajah… 

Opo ilatku  sing trobel yo… 

Tapi yang penting, rasa penasaran dan ati yang kepincut sudah terobati… Ketimbang rindu dan kebayang barang hayo… 

Gowes Haji Rusia

Hidayatullah.com–Mengendarai sepeda sepanjang ribuan mil, seorang Muslim asal Rusia akhirnya mencapai kota suci Makkah untuk memenuhi impian dalam hidupnya menunaikan ibadah haji.

Bulat Nassib Abdulla, 24 tahun, berangkat dari Rusia sejak hari pertama Ramadhan pada 6 Juni 2016 lalu.

Selama tiga bulan terakhir, ia mengayuh sepedanya mencapai Arab Saudi untuk mengikuti ziarah tahunan tersebut.

Wakil Kementrian Haji dan Umrah Saudi, Mohammed Abdulrahman Al-Bejawi menyambut Abdulla di Madinah sebelum menuju ke Makkah, lapor harian lokal Arab, Sabq.

Abdulla bukanlah jama’ah haji pertama yang bersepeda ke Makkah untuk berhaji.

Bulan lalu, seorang warga China juga menjadi berita utama karena ia bersepeda sejauh 8,150 km dan telah mencapai Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji.

Keduanya pun bukan muslim pertama yang menantang diri untuk tiba di Makkah dengan metode yang berbeda dari biasanya.

Pada tahun 2012, Muslim Bosnia Senad Hadzic, 47 tahun mencapai kota suci Makkah dengan berjalan kaki untuk melakukan ibadah haji.

Selama perjalanannya, pria ini berjalan kaki  hampir 3.600 mil (5.900 km) jauhnya dari desanya di Bosnia ke Kota Suci Makkah.

Bulan Mei 2014 lalu, juga ada sekelompok jama’ah asal Malaysia naik sepeda dari Kuala Lumpur ke Madinah.

Gowes Umrah Malaysia

Hidayatullah.com—Pasangan suami isteri Melayu kompak melakukan perjalanan menunaikan ibadah umrah dengan mengayuh sepeda pancal, bakal mencapai hajat mereka segera setelah mengembara sembilan bulan lamanya.

Warga Malaysia — Ahmad Mohd Isa (27 tahun) dan istrinya Noradilah Mohd Sapie (28 tahun)– memilih untuk mengayuh kendaraan roda dua ke tanah suci.

Sebelumnya, pasangan itu dilaporkan nekat menantang kemampuan mereka melakukan ekspedisi bersepeda  bertajuk ‘Kembara Memburu Hikmah’ (KMH), dengan mengayuh sepeda dari Malaysia ke Makkah sejauh 17.000 kilometer.

Setelah bertolak dari Malaysia, mereka harus melintasi 13 negara lain dalam waktu hamper setahun, yaitu; Thailand, Myanmar, India, Nepal, Pakistan, China, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Afghanistan, Iran, UEA, sebelum akhirnya menjejakkan kaki ke Arab Saudi sebagai negara ke-13.

Dalam wawancara melalui kiriman email dengan Mediacorp Singapura, pasangan itu mengatakan bahwa mereka kini sudah berada di Afghanistan, negara ke-11 dari 12 negara yang harus dilalui. Ini berarti tinggal lagi 1 negara harus direntasi sebelum tiba di Arab Saudi.

“Alhamdulillah, selama 27 hari kami di Uzbekistan yaitu dari 11 Desember 2016 hingga 6 Januari 2017, sekarang kami sudah berada di Afghanistan. Insya Allah, sesuai rencana kami, perjalanan berikutnya (sesuai urutan) adalah Iran, Emirat Arab dan Arab Saudi, “kata mereka dikutip Mediacorp, Rabu (11/01/2017).

Menurut Ahmad dan Noradilah, tantangan besar yang mereka lalui sepanjang petualangan itu adalah masalah komunikasi dengan masyarakat di suatu negara.

“Bahasa yang mereka tuturkan seperti Urdu, Uighur, Persia dan bahasa lokal lainnya tidak dapat diterjemahkan menggunakan setiap aplikasi di internet.

“Mereka pula sebagian besar tidak memahami bahasa Inggris atau Arab. Maka ini menyulitkan komunikasi antara kami untuk saling bertukar pandangan, “ujar pasangan itu memberitahu.

Bersepeda di Musim Salju

Sungguhpun begitu, pengalaman yang diraih ada juga yang memberi kesan mendalam kepada pasangan yang memang ‘kaki sepeda’ dan membesar dengan bersepeda dari zaman sekolah sampai universitas.

Di halaman Facebook KMH, pasangan itu berbagi “pengalaman hebat” ketika bersepeda di musim salju di Kazakhstan – dengan mengupload video – karena itulah kali pertama mereka bergelimang dengan salju!

Ternyata tidak mudah karena mereka beberapa kali tergelincir. Namun menurut pasangan berkenaan itu “membuat hati mereka semakin kental untuk melanjutkan perjalanan”.

Makanan tak Terputus

Selain itu layanan baik yang diterima cukup membuat mereka tersentuh.

“Berbagai bentuk layanan dan bantuan yang di luar harapan kami terima dari insan-insan berhati mulia sepanjang perjalanan ini dan semuanya membuat kami tersentuh.

“Sejak memasuki negara-negara ‘STAN’ (Pakistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Afghanistan, Kazakhstan), rezeki dalam bentuk makanan tidak putus-putus. Kami tidak sempat untuk merasa lapar.  Setiap kali diundang makan, makanan penuh terhidang atas meja, “ kata mereka, menjelaskan adat budaya warga yang memanjakan para tamu dengan berbagai jenis hidangan.

“Semoga Allah merahmati hidup mereka yang memberikan bantuan, dukungan dan mendoakan kami apakah kami tahu atau tidak. Setiap kebaikan itu ada balasan dan rahmat di sisiNya.”

Sujud Syukur depan Ka’bah

Setelah sekitar sembilan bulan perjalanan mereka, yaitu sejak April 2016, kini Noradilah dan suaminya semakin hampir ke tujuan utama, yang diidam-idamkan setelah sekian lama.

Kedatangan mereka di Makkah nanti pasti menjadi satu momen bersejarah dalam hidup mereka dan tidak ada tandingannya.

Setelah menjejakkan kaki di Makkah, hal pertama yang ingin dilakukan adalah “bersujud syukur di hadapan Ka’bah”.

Ahmad dan Noradilah berharap berada di Makkah menunaikan umrah selama dua minggu sebelum pulang ke pangkuan keluarga tercinta di Malaysia.

“Kami rindu sekali menginjakkan kaki ke tanah air sendiri setelah ke tanah suci Makkah dan Madinah. Selain itu kami juga rindu ingin mendekap kedua orang tua kami yang tidak putus-putus mendoakan perjalanan kami agar selalu lancar dan aman, ” ujarnya.

Selain melakukan misi kemanusiaan di setiap negara yang dijelajah, pasangan suami istri itu turut membawa tantangan merekam data terkait sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat Islam.

GSX-R150: Gak Umur Wis… 

Adalah 24 Januari 2017 silam mas Apri dari Suzuki Bejen yang dipindah ke Sragen karena tenaga dan pikiran beliau dibutuhkan di sana telah mengirim foto si GSX-R150 via BBM. 

Dibumbui sedikit rempah dan penguat rasa, ditawarkanlah racikan terbaru Suzuki di lini motor laki ini. Matur nuwun Mas atas info dan keramahannya. Dasar piyayine alus…

Sebenarnya dalam hati kecil yang paling dalam, gak perlu dirayu pun aku sudah kesandung sama si GSX-R150 ini, juga yang GSX-S150. Tapi mengingat, menimbang, dan menghitung umur ini loh…  Gak mentolo nek aku sih nyemplak motor ginian. Marakne anak cemburu, ngenes lan nelangsa… Pakne gak gelem kalah Cung…. Ngono iku… 

Ditambah lagi bisikan dari bolo gowes, Sampeyan ki mending nyemplak bongso metik rodo gedhe ngono ae Kang…  Ketok kalem, handsome… Halah… 

Misale ngene iki yakne.. Sing ndi? 

Gowes Tantangan Tanjakan

Ada rute yang sangat menantang karena tanjakannya, khususnya bagiku dan bolo gowesku. 

Bermula dari tantangan oleh salah seorang kenalan bolo gowes. Ada dua rute tantangan, 

  1. Rute sekitaran kuburan delingan. Rute ini sudah aku libas  habis semuanya. Katanya ada tanjakan ekstrim tapi dari semua rute di daerah ini semua sudah kelibas dengan mudah tanpa kesulitan apapun.
  2. Rute desa Gondangrejo di daerah Plosorejo, Matesih. Rute ini yang jadi catatan kali ini. 

Kamis kemarin sebenarnya adalah kali kedua gowes kami. Kali pertama boleh dibilang gagal total karena dari kami yang bertiga, semua goweser terkapar. Gak kuat nanjak lagi. Nuntun pun berat, nggenjot tak ada beda.

Kali kedua ini boleh dibilang gagal lagi. Dari berempat hanya satu yang pecah rekor. Yang tiga terkapar di tiga titik berbeda. 

Sebut saja kami adalah aku, Muh, Is, dan Zain.

Rute dimulai dari Karanganyar hingga satu titik di jalan alternatif Matesih yang berjarak kira kira 12km saja. Naik mobil biasanya 20an menit. 

Aku ambil gambar dari Google map. Inilah dia. 

Biasanya para goweser lurus saja ikuti jalan alternatif hingga pertigaan kantor pos Matesih. 

Tapi tantangan kali ini adalah ambil lajur kiri di pertigaan kecil itu. Ada papan petunjuk di sisi kiri jalan. Masuk desa Gondangrejo Plosorejo.

Langsung disambut dengan tanjakan rada belok kanan lalu landai 5 meter disambung lagi tanjakan kedua dan lebih panjang lagi hingga berujung di dekat masjid kiri jalan. Mampir masjid ambil wudlu dan dua raka’at lalu sambung terus ke timur sampai ada tanjakan yang lebih jos lagi…. 

Di tanjakan seri ketiga inilah Zain terkapar. Di belakangnya ada Muh yang slip karena roda nyentuh lumut licin, nuntun wis karena gak mungkin langsung genjot  tanpa ada ancang-ancang. Lalu kemudian Is menyusul terkapar di dekat Zain selonjoran  kaki. 

Lalu dirikulah yang dengan penuh hati-hati menapaki tanjakan. Berbekal pengalaman mata dari yang bertiga, dan onthel yang paling superior dari yang bertiga, dengan sangat pelan di genjotan tapi nafas disiplin tinggi mesti dijaga serta support teriakan dari yang terkapar mampu memompa semangat dan tenaga hingga takluklah sang tanjakan. 

Klêmun klêmun… 

Nafas tersengal… 

Tenggorokan kering… 

Istirahat dulu… 

Membasahi kerongkongan dengan air sebentar hingga dunia kembali terang. Haha… 

Ada yang ikutan mau nyoba…? 

Gaya Kendara dan Efeknya

Sekalian servis Nissan Grand Livina di km 50ribu, aku sampaikan beberapa keluhan. Berikut keluhan yang aku catat untuk disampaikan oleh temanku ke bagian mekanik,

  1. Ban depan serasa punya madzhab berbeda, maksudnya satu ngarah ke mana yang lain ngarah ke mana. Kerasa banget kalau pas lewat di genangan air. Oling berat… 
  2. Mesin tersendat sendat di putaran bawah meskipun di gigi persneling rendah. Pengalaman di unit lain dengan tipe dan tahun sama gak begitu. 
  3. Rem bunyi menyayat kalau tuas diinjak, serasa kampas sudah tipis padahal baru diganti di bengkel resmi juga. Paling kampasnya kotor pas masang yang baru. Kalau iya, berarti mekaniknya kemproh dong. 
  4. Pas digeber 100km/j setir getar hebat. Tapi kalau digas lagi sampai 110km/j dan lebih lagi malah getar ilang. 
  5. Sudah. 

Nah. Mobil dibawa temanku ke beres di Solobaru.

Dan ini hasilnya, 

Keluhan 1 dan 5 disebabkan oleh hal sama. Unit chambernya di unit kendali ban depannya jebol. Penyebab utamanya adalah manuver tajam. Allahu Akbar, konangan ki kalau gaya kendara suka ngepot ngepot. Harus ada penggantian part. 

Keluhan 2 dijawab oleh bagian mekanik bahwa itu sudah karakter Nissan Grand Livina kalau sudah mencapai 30.000 km dan lebih. Jadi tidak ada tindakan teknis. Subhanallah…  Aneh gak sih? 

Keluhan 3 gak ada indikasi penanganan juga. Saat ini rem masih menderita karena selalu terdengar begitu menyayat saat kuinjak pedalnya. 

Sudah. Aku cuman ambil satu poin dulu. Bahwa gaya kendara bisa menyebabkan bertambahnya biaya…  Haha… 

Ini rincian biaya haha… 

Semoga berguna haha.. 

Gowes to Kemuning

Tempat Kejadian Perkara: Kemuning

Waktu Kejadian Perkara: 24 November 2016

Acara ini sebenarnya sudah lama jadi agenda. Tapi gagal dan gagal lagi karena salah satu goweser yang supersibuk menjadi pemicu kegagalan. Kali ini pun yang bersangkutan terpaksa dieliminiasi biar gak gagal lagi.

Gowes kali ini melibatkan dua guru muda di sebuah pesantren di Sragen. Start pun dimulai dari area pesantren. Diiringi pandang mata ratusan santri kami memulai genjot pedal. Kami berempat saja, dua guru dan dua lagi penghuni tetap setiap acara. Armada yang kami libatkan adalah Polygon Heist, Giant Talon, Specialized Pitch Pro, dan Giant Anthem X. Gak seragam baik sepeda maupun pakaian, seperti biasanya aja. Baca lebih lanjut

Yang Penting Sehat, Gak Kudu Cepat

Itu bukan karena mutung atau putus harapan, atau omongan orang yang kalah adu speed dengan goweser lain. Bukan sebagai pembelaan diri, tapi memang seseorang mesti tahu diri, bisa mengukur kemampuan sendiri, dan gak lupa umur dan juga mesti ingat anak istri, yang saat ini istri masih satu dan anak duabelas ninggal empat.

Juga karena beberapa kali baca artikel di blog gowes yang menuliskan kabar duka tentang goweser yang meninggal ketika nggenjot di jalan karena serangan jantung. Juga teman bengkel pernah cerita kalau dia pernah nolongin goweser yang tersungkur dijalan dan sesaat kemudian meninggal karena jantungnya overload.

Mau sehat malah akhirat… Baca lebih lanjut

Gowes Tawangmangu

Waktu kejadian: hari Kamis, 20 Oktober 2016.

Tempat kejadian perkara: Tawangmangu.

Ya, rada lucu sebenarnya. Mulai dari acara yang gak direncanakan, terpisahnya anggota rombongan, hingga tanjakan dan ketemu saudara dan klimaksnya adalah terminal Tawangmangu.

Hari itu, sekitar jam 6 pagi, ada seorang teman datang bawa sepeda hybrid miliknya untuk disetel RDnya. Aku pun menggelar peralatan bengkel pribadiku di samping rumah. Dan jadilah bengkel pit onthel dadakan. Dan istriku nganterin 2 cangkir teh anget ditemani pohung goreng. Sedap…

Tak berapa lama, datang satu orang lagi nimbrung ngobrol ngalor ngidul. Selesai nyetel sepeda, satu orang nyeletuk, nggowes ke mana nih…

Akhirnya, dengan tanpa rencana, kami bertiga langsung siap grak nyiapin armada onthel. Langsung genjot ngarah ke timur. Gak tahu mau ngarah ke mana, pokoke ke timur.

Baca lebih lanjut