Motor Baru

Assalamu’alaikum…

Biker dan blogger uda pada tahu gimana para pabrikan motor berlomba brojolin jajaran produk anyar mereka. Dan tetep aja laku, bahkan sebelum brojolan itu nongkrong di dealer. Kaum blogger pun rela menjadi “ujung tombak” pagi pemasaran produk, baik yang berbayar maupun kerja bakti karena “kesadaran” sendiri. (Fenomena ini juga terjadi pada produk gadget yang bahkan ada media yang secara intens dan penetratif melakukan “edukasi” kepada masyarakat). Sungguh Indonesia.

Motor-motor baru tentu menawarkan hal baru. Baik yang bener-bener baru maupun pura-pura baru. Mulai mesin baru maupun aksesories baru. Dan orang Indonesia emang suka hal-hal baru.

Nah, ini Gan yang secara ane yang awam ada hal yang agak susah nangkepnya.

Kesukaan orang Indonesia terhadap hal baru (motor) belum diikuti dengan kesadaran terhadap pengetahuan (tidak baru) tentang konsekuensi dan tanggung jawab yang dipikul. Bahkan keinginan terhadap motor baru juga belum tentu berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan mereka terhadap fungsionalitas sebuah produk. Ingat ponsel, kalau gak 3G gak laku, padahal semua juga tahu bagaimana fitur itu di Indonesia. Kalau motor gimana?

kasian angka ijo 14 di atas, gak diperhatiin...

kasian angka ijo 14 di atas, gak diperhatiin, padahal…

Agan semua juga tahu, kalau populasi motor di Indonesia sudah bengkak gak karuan tahun-tahun belakangan ini (secara data silakan merujuk ke blog-blog yang profesional. Ane gak mampu yang itu…) dan Agan juga tahu, bagaimana fenomena berkendara para pemotor (bahkan pemobil) di jalanan kota maupun kampung. Semua sudah sambat…

Maaf bukan mau nuduh, sepertinya fenomena suka motor baru ini yang (sangat) dibaca oleh para pabrikan. Bikin produk anyar, jajak pasar mancing opini dengan taktik spyshoot (atau malah tatik ngumpet), bikin gampang pembelian dengan kredit murah atau gandeng leasing. Bahkan peraturan yang dibikin pemerintah kesannya cuman ngikut aja sama pabrikan. Ketika sudah jadi bumerang, baru nyadar. Ingat kasus minimal DP yang minimal 30%, Gan. Tapi tetep aja ada pihak yang ngelanggar batas minimal ini. Intinya… fenomema barang (motor) baru tetep bikin ngeces.

Sekarang kembali ke kita aja, Gan.

Kita mau jadi korban mode (pabrikan), atau mau jadi diri sendiri ajah…

Kita mau menuhin kebutuhan atau sekedar ngikutin keinginan…

Monggo silakan ngetik dimari, Gan…

komentar sopan dan membangun sangat dihargai

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s